Di
suatu malam pekat tanpa gemintang, sementara mendung kian berarak merapat
berpagutan, tengah duduk seorang laki-laki di bawah kolong jembatan. Menyendiri
dalam kepedihan yang teramat dalam. Disinyalir kabur dari rumah. Entah berantem
sama istrinya, atau karena apa?
Cukup
lama laki-laki itu bermenung diri. Sesekali
air matanya berlinang tanpa ia seka. Baru ketika mengenai jerawatnya yang
sebesar biji jagung, ia mengambil sapu tangannya yang sudah kumal dan
menyekanya pelan-pelan. Sejurus kemudian ia mengeluarkan secarik kertas. Lalu,
ia pun mulai menulis.
Sulastri …
Dulu, gara-gara
sekerling matamu hasrat muncrat tak karuan. Rasa yang ada sungguh tak
terbantahkan, sesegera ingin kumuntahkan. Dan ketika selaksa panah asmara kulesap,
akhirnya kau mengiyakan. Kita pun pinangan.
Memang, perjalanan
cinta tak pernah mulus, seperti termaktub dalam kisah-kisah yang ada. Namun
sebagaimana mestinya, seorang pejuang cinta tak pernah menyerah menghadapi
badai yang menerjang. Sama halnya denganku. Namun, kesalahanmu kali ini adalah
dosa yang tak terampuni. Mengapa kau dustai? Mengapa tak sejak dulu kau akui?
Dan mengapa baru kali ini, ketika kobaran cinta tengah berapi-api, kau buka diri?
Mengapa kelaminmu harus sama dengan kelaminku ini … huhuhuhuhu (ekspresi
ngosek)!
Comments
Post a Comment