Dikisahkan Mbah Parjinem telah berpulang ke alam baka, namun karena
kesaktiannya beliau masih bisa bercakap-cakap dengan orang yang masih hidup. Bahkan,
sepeninggal beliau, banyak murid-muridnya yang sering sowan ke kuburannya,
salah satunya adalah Paijem yang tengah getol-getolnya menimba ilmu dari Mbah
Parjinem. Bagi yang melihatnya kasat mata, orang akan menganggap Paijem suka
ngomong sendiri dikuburan kemudian tanpa pikir panjang lagi langsung kasih kode
telunjuk miring di jidat, padahal Paijem sedang berbincang-bincang dengan Mbah
parjinem.
Paijem ini pinter, juga cekatan. Tiap apa yang Mbah Parjinem omongin
selalu nyangkut diotaknya, bahkan ketika Mbah Parjinem berbicara perihal pusaka
andalannya yang tak boleh disebutkan sembarangan, Paijem selalu mancing-mancing
agar Mbah Parjinem menjelaskannya lebih detail.
“Apakah pusaka itu pernah mbah pakai?” tanya Paijem penasaran
“Mbah pernah pakai sekali kemudian Mbah simpan kembali!” ujar Arwah
Mbah Parjinem
“Terus apa yang terjadi, Mbah”
“Perubahan yang sangat drastis!”
“Apakah pusaka itu berwarna, dan memiliki khasiat yang luar biasa
mbah?”
“Tentu saja warnanya kuning keemasan, khasiatnya sangatlah ampuh
makanya mbah nggak berani coba-coba dan nggak berani menurunkannya kepada
siapapun, bahkan ditempat penyimpanannnya telah dijaga ketat oleh beberapa
makhluk halus, siapapun nggak bakal bisa mengambilnya terkecuali dia tahu
passwordnya!”
“Wah, emejing, … terus yang tau passwordnya siapa, Mbah?” Pancing
Paijem
“Ya si Mbah sendiri toh, passwordnya adalah mantra mantra Nduk”
“Mantra-mantra itu tentu sulit yam bah, siapalah diriku ini sepertinya
nggak pantas kalaupun Mbah menurunkannya kepadaku” Paijem memelas nadanya,
namun dibalik itu ada kepicikan di hatinya.
“Ah, gampang kok, cuma bel geduwel gondal gandel sempakbolong ditambal
ketan celana bolong nakutin setan, ya cuma gitu aja, nduk hehehe”
“Wah, mbah terima kasih sudah ngasih tau mantranya!” teriak Paijem dan
membuat Mbah parjinem tercengang karena kelupaan ngasih tahu. Sejurus kemudian
Paijem langsung ngacir ke rumah Mbah parjinem guna mencari pusaka itu.
Sesampai di rumah Mbah parjinem, Paijem langsung ngobrak-ngabrik
sampai ngos-ngosan. Sudah dua jam lebih pusaka tak kunjung ditemukan, Paijem
hampir nyerah. Dalam keadaan gundah gulana, Paijem ingat mantra itu. Ia pun
mengucapkannya bolak-balik. Selang setengah jam kemudian, suatu benda di bawah
lemari muncul memancarkan cahaya kuning keemasan. Paijem kegirangan dan segera
diambilnya benda tersebut yang ternyata sandal jepit berwarna kuning. Paijem
pun langsung memakainya. Seketika itu langit kelabu, guntur membahana, dan bumi
gonjang ganjing. Paijem jungkir balik dan pingsan. Ketika sadar, Paijem melihat
semua benda-benda di sekelilingnya nampak besar sekali, dan anehnya dirinya
memiliki sayap hingga membuatnya bisa terbang. Ternyata memang ampuh pusaka
itu, dalam sekejap mampu membuat perubahan drastis, kini Paijem telah berubah
jadi peri mungil yang nakal, orang menyebutnya Peri Pecicilan … ahahaha!
Comments
Post a Comment