Pak Sarno adalah guru matematika yang
terkenal killer di sekolah Sudrun. Tiap kali jam pelajarannya, anak-anak jadi kayak patung dan jika beliau
sudah ngasih warning mengajukan pertanyaan, anak-anak deg-degannya setengah
mati sambil komat-kamit berdoa sekenanya supaya nggak jadi sasaran telunjuk pak
Sarno (lu pade musti pernah ngalamin kan yang beginian … hhh).
Hari ini adalah jam pelajaran Pak
Sarno di kelas Sudrun. Anak-anak sudah duduk rapi meskipun Pak Sarno belum
datang. Kelas hening, ada yang pura-pura baca, ada yang pura-pura nulis,
kecuali Sudrun. Sedari tadi dia megangin perut, mules ampun-ampunan dan
akhirnya pertahanan pun tak dapat ditahan. Gas beracun keluar dari pantat
Sudrun dan langsung nyebar kemana-mana. Tak ada yang berani bersuara, paling
banter cuma nutup hidungnya saja. Sudrun
cengengesan dan tepat pada saat itu, Pak Sarno masuk. Namun, baru buka pintu
kelas beliau keluar lagi dan meludah sejadi-jadi sampai kering tengorokannya
karena tak tahan bau gas beracun Sudrun. Hhhhh.
Pak Sarno masuk kelas lagi sambil
nutup idungnya yang kurang mancung.
“Huuh, dasar, siapa yang buang
gas, heh?!” Tanya pak tarno, matanya tajam melotot merhatiin anak-anak. Semua
terdiam dan menundukkan muka.
“Ayo, ngaku, siapa?” Pak Sarno mulai
geram dan masih tak ada sahutan sama sekali.
Tiba-tiba tak berapa lama, ada
yang nyeletuk.
“Saya tau, Pak!” kata Sudrun
“Sudrun, coba bilang sama Bapak,
siapa yang kentut? Kamu jangan takut Sudrun, biar Bapak Hukum pelakunya!”
“Yang lagi tutup idung, Pak!”
jawab Sudrun dan seketika Pak Sarno matanya langsung mencari, namun sayangnya
tak ia dapati.
“Sudrun, kamu jangan
mengada-ngada, coba kamu lihat sendiri! Nggak ada yang tutup hidung, kan?”
“Lho, Bapak sendiri berdiri di
situ tangannya nempel diidung itu lagi ngapain?”
Gkgkgk … anak-anak lain langsung
pada menundukkan muka melihat kolong meja sambil cekikikan menahan tawa.
Comments
Post a Comment