Kalau lagi suntuk dan kesal kemudian nemu orang yang tepat buat
mencurhatkan perasaannya itu kayak nemu tambang emas di bebatuan cadas.
Seperti hari ini misalnya, Sudrun ketemu saya yang notabene sudah
dianggap seperti saudaranya sendiri hingga ia bisa bebas melampiaskan
gundah gulananya.
“Ndan, suntuk bener, gak tau nih kenapa hari ini bawaanya kesel pengin marah-marah aja!” curhat Sudrun
“Waduh, Drun, itu nggak baik lho” timpal saya sembari memperhatikan mukanya yang memang tampak lecek.
“Lha, terus aku kudu piye alias harus gimana, Ndan”
“Ya, harus kamu lampiaskan, Drun, kalau enggak ntar kamu cepet tua!”
“Gimana caranya, Kumendan?”
“Dengan akting!”
“Akting? Kamsudnya?”
“Gini, Drun, kamu kan lagi pengin marah-marah tuh, sekalian aja lampiasin, misalnya gini kamu lihat Parmi di sana yang lagi ketawa-ketawa, kan? Kamu datengin aja dia terus marahin pake alasan apa, kek, terus kalau dia nanya-nanya kenapa kamu begitu … naaah, kamu minta maaf aja dan jelasin kalau tadi itu cuma akting,”
“Wuiiiih, cerdasss, okeks ndan aku coba, ya,”
Tanpa menunggu saya mengiyakan, Sudrun langsung nyamperin si Parmi dan saya hanya bisa ngawasin dari kejauhan. Di sana, di tempat Parmi duduk, saya lihat Sudrun tampak beringas sekali dan memaki Parmi sejadi-jadi. Sontak tingkah Sudrun langsung jadi pusat perhatian orang-orang di sekitar situ. Namun yang terjadi, belum sempat si Parmi ngomong sepatah dua kata, saya lihat Sudrun dikejar-kejar banyak orang, mau digebukin dan dalam keadaan lari marathon begitu sempat-sempatnya Sudrun melirik saya dengan pandangan yang kalau diterjemahin panjang urusannya. Haha.
“Lha, terus aku kudu piye alias harus gimana, Ndan”
“Ya, harus kamu lampiaskan, Drun, kalau enggak ntar kamu cepet tua!”
“Gimana caranya, Kumendan?”
“Dengan akting!”
“Akting? Kamsudnya?”
“Gini, Drun, kamu kan lagi pengin marah-marah tuh, sekalian aja lampiasin, misalnya gini kamu lihat Parmi di sana yang lagi ketawa-ketawa, kan? Kamu datengin aja dia terus marahin pake alasan apa, kek, terus kalau dia nanya-nanya kenapa kamu begitu … naaah, kamu minta maaf aja dan jelasin kalau tadi itu cuma akting,”
“Wuiiiih, cerdasss, okeks ndan aku coba, ya,”
Tanpa menunggu saya mengiyakan, Sudrun langsung nyamperin si Parmi dan saya hanya bisa ngawasin dari kejauhan. Di sana, di tempat Parmi duduk, saya lihat Sudrun tampak beringas sekali dan memaki Parmi sejadi-jadi. Sontak tingkah Sudrun langsung jadi pusat perhatian orang-orang di sekitar situ. Namun yang terjadi, belum sempat si Parmi ngomong sepatah dua kata, saya lihat Sudrun dikejar-kejar banyak orang, mau digebukin dan dalam keadaan lari marathon begitu sempat-sempatnya Sudrun melirik saya dengan pandangan yang kalau diterjemahin panjang urusannya. Haha.
Comments
Post a Comment