Di kampung
saya, memiliki menantu sarjana itu merupakan kebanggaan yang teramat luar biasa.
Contohnya, saya sendiri. Belum lulus kuliah saja banyak para orang tua yang
datang silih berganti bermaksud menjodohkan anaknya sama saya. Beruntunglah,
bapak saya tidak ortodoks, menyerahkan segala sesuatunya kepada saya. Jadi,
dengan halus saya menolaknya agar orang-orang tersebut tidak kecewa tentunya.
Muka tak jadi soal, yang penting title sarjana
nemplok dinamanya, maka sudah pasti jadi incaran para orang tua yang memiliki
anak gadis. Pernyataan inilah yang ternyata membuat saya kena batunya. Dulmain,
teman satu kampus ngotot benar pengen main ke kampung saya. Baginya, Kampung
saya itulah harapan satu-satunya dan mungkin terakhirnya buat melepas
kejombloannya. boleh dibilang muka dulmain nggak ganteng-ganteng amat sih,
bahkan kalo dirating mungkin lebih rendah dari itu, kasarnya jeleklah. Buktinya, kalau orang agak ganteng dikit
nembak lima gadis, pastilah ada yang nyangkut satu, tapi dulmain nembak lima
gadis ditolak semua, ada juga yang baru pedekate, langsung nolak mentah-mentah.
Dan ketika dia
mendengar cerita saya, walhasil saya pun dipepet terus. Tak jarang rokok selalu
disodorkan, juga sesekali nraktir makan bakso yang tentunya dengan maksud
tertentu: bisa diajak ke kampung saya. Bahkan, dia juga rela ngongkosin saya
jika saatnya nanti saya pulang kampung sama dia.sampai sebegitunya dia sama
saya, jelas-jelas saya pun jadi nggak enak sendiri dan berjanji jika nanti
pulang, saya akan ajak dia.
Dulmain
sepertinya benar-benar nggak sabar. Setiap hari dia main ke kos-kosan dan saya
disuruhnya bercerita tentang kampung berikut gadis-gadisnya.
“pokoknya,
cantik-cantiklah, dul” tandas saya cepat ketika melihat dulmain mengeluarkan sebungkus
rokok dari sakunya.
“bagaimana
kalau bulan depan saja kamu pulang, gus?”tanya dulmain menyodorkan sebungkus
rokok ke tangan saya.
“waduh, belum
bisa dul, saya harus menyelesaikan satu bab skripsi saya” jawab saya dan segera
menyambar sebungkus rokok.
“ lama bener
ya kalau harus nunggu bulan depan .. masalah skripsi kan bisa ditunda sebentar,
gus” tuksa dulmain
“masalahnya
bukan itu saja, dul, bapak saya belum kirim, jadi saya nggak ada ong ...”
“ongkos gus, “
cegat dulmain cepat
“kan sudah
saya bilang, nanti saya yang ngongkosin bolak balik deh” lanjutnya. Tak enak
hati benar rasanya mendengar
kata-katanya. Dan karena dia terus ngotot akhirnya saya mengalah saja.
“perjalanan ke
kampung saya itu jauh lho, dul” tegas saya
“sampai ke
mekkah pun saya siap, gus” tandas dulmain
“ya sudah,
kalau begitu, bulan depan ya dul”
Hari-hari
selanjutnya saya jalani seperti bisaa, Ngobrol sama dulmain soal kampung
halaman dan gadis-gadis yang tak ada habis dan bosan-bosannya, rokok yang
berpindah tangan dari tangan dulmain ke tangan saya, dan juga bakso gratis yang
nylonong di tenggokan saya sampai hari yang nanti tiba.
Akhirnya, hari
dimana saya harus pulang kampung karena tuntutan dulmain pun tiba. Sore-sore dulmain
dating ke kos-kosan. Kaget benar saya, ketika melihat dia bawa koper besar
persis tekawe yang mau berangkat ke arab Saudi. Rasanya mau meledak tawa saya,
buru-buru saya tahan, nggak enaklah ntar dikira yang bukan-bukan. Lantas saya
Cuma cekikikan dalam hati.
“malam mini
saya nginep di kosanmu ya gus” kata dulmain spontan
“biar besok
kita bisa langsung berangkat dari sini, jadi nggak makan waktu” sambungnya
“iya
deh..dul.siip” tandas saya sumringah
Malamnya dulmain
nggak bisa tidur. Kampung saya selalu nyelinap dalam setiap pembicaraannya.
Saya disuruh bikin list gadis-gadis yang cantik di kampung. Dungunya, saya
nurut saja, seperti dihadapan seorang arjuna yang gantengnya tiada tara sedang
menyuruh saya memilihkan gadis yang pantas untuknya. Kantuk berat rupanya
merayapi mata saya. Ocehan-ocehan dulmain jadi seperti tawon yang mondar
mandir: antara jelas dan tidak di kuping saya. Hingga akhirnya saya kalah dan
terlelap dengan sendirinya.
Subuh-subuh,
saya dicolek-colek orang, rupanya dulmain membangunkan saya.
“lho, kamu
sudah bangun dul” tanya saya
“saya nggak
tidur gus, saya ngebayangin kampung kamu, gus” ujar dulmain yang kelihatan
nggak ngantuk sama sekali padahal semalam tidak tidur dia.
“ya sudah aku
mandi dulu ya terus langsung berangkat”
Akhirnya,
pagi-pagi kami jadi berangkat pulang kampung.
Saya mengatakan sama dulmain kalau kampung saya itu ditempuh dalam tiga
perjalanan. Pertama, naik bus kota sekira 5 jam lamanya, terus naik angkot
kurang lebih 30 menit, dan yang terakhir naik becak, 20 menit. Dulmain pun
menyanggupinya, baik ongkos maupun dirinya.
Tiga
perjalanan rupanya bukan hal yang sulit bagi dulmain karena semalam dia tidak
tidur maka di angkutan dia hanya bisa ngorok pulas. Saya sendiri cuma bengong
bengong, nggak ada lawan bicara buat nglepas kebosanan saya selama di
perjalanan.
7 jam kurang
lebih telah tertempuh, kampung tercinta sudah di depan mata. Sesampai di rumah
saya dicambut curiga sama bapak, maklum saya nggak ngabarin terlebih dahulu,
pastinya bapak bertanya-tanya perihal kepulangan saya, apalagi juga membawa
teman.
“gus, kok baru
kemarin sudah pulang lagi” tanya bapak heran
“iya, pak,
agus kangen sama keluarga, oh iya pak ini teman agus, dulmain namanya” lantas segera
saja yang saya sebutkan namanya langsung menyodorkan tangannya.
Perkenalan
dulmain sama bapak singkat saja, kemudian kami langsung larut dalam percakapan
yang begitu akrab. sesekali bapak bercerita tentang orang yang ingin menjodohkan
anak gadisnya dengan saya. Dulmain mendengarkan serius, matanya tak berkedip.
Bapak juga senda gurau sama dulmain, kalau pengen dapet cewek modal sarjana saja pasti dapat yang cakep dikampung
ini, kata bapak kepada dulamin. Saya mengamini saja apa kata bapak. Dulmain
mungkin air liurnya sudah menetes kalau dirumahnya sendiri.
“Besok kita main ke rumah, wak karman, dul, anak
gadisnya cakep lho, siapa tahu kalau ketemu kamu dan tahu kamu sarjana langsung
kawin di tempat ..hehehe” ledek saya, sementara yang diledek cuma meringis, matanya
berbinar-binar, senyumnya mengembang lebar.
Pagi-pagi,
punggung saya ditepuk-tepuk orang, saya pikir bapak yang membangunkan saya,
tahunya dulmain. Katanya dia nggak tidur semalam. Katanya lagi, Pengen
buru-buru pagi, biar lekas ke rumah wak karman. Lantas saya segera mandi dan
bersiap-siap.
Lama benar
dulmain dandan di cermin, mukanya yang pas-pasan itu mencoba mencari mimik yang
menurut dia paling ganteng, rambut keritingnya bolak balik disisir kesana
kemari mencari model yang cocok dengan muka, sampai saya bosan nungguinnya.
Kira-kira 20 menit dia selesai dandan, baru kemudian kami bergegas ke rumah wak
karman.
Sesampai di
rumah wak karman, saya disambut begitu ramah dan disuguhi jajanan macam-macam.
Mata dulmain kesana kemari mencari anak
gadis wak karman yang tak kunjung juga keluar atau ditemuinnya. Melihat gelagat
dulmain yang nampaknya resah, saya pun iseng-iseng bertanya
“ijah, dimana
wak” tanya saya iseng-iseng seraya melirik dulmain. Dulmain rupanya mengerti
terjemahan lirikan saya, makanya dia bias tenang setelah saya melontarkan
pertanyaan anak gadis wak karman.
“oh, ada ..
hmm, tumben nih nanya ijah, kamu sudah mau ya saya jodohin sama ijah” ujar wak
karman
“bukan itu
wak , maksud saya ..” belum sempat saya melanjutkan kata-kata, wak
karman sudah masuk ke dalam memanggil ijah. Dulmain Nampak sedikit cemberut
mendengar kata-kata wak karman tadi. Buru-buru saya menjelaskan duduk
pekaranya, kalau saya tadi mau ngomong soal dirinya jika dijodohin sama ijah,
pasti seneng wak karman, secara, dulmain kan sarjana. Baru dulamin sumringah
mendengar penjelasan saya.
Wak karman datang
bersama ijah. Mata saya tak berkedip melihat ijah yang bertambah manis saja,
sampai-sampai ijah terispu-sipu saya lihat begitu. Nampaknya dulmain juga ikut
tak berkedip memandangi ijah dari ujung kai sampai ujung rambut.
“begini, wak,
saya kesini mau ngenalin temen saya sama wak karman dan juga ijah. Dia juga
sarjana lho wak seperti saya, soalnya saya nggak pengen buru-buru nikah, wak”
tandas saya lebar-lebar. Ijah Nampak cemberut, sementara dulmain gelagapan.
“APAAAAAAA………..!!!!
dengan muka curut ini, saya nggak yakin dia sarjana, nggak ada tampangnya
sedikit pun” bentak wak karman sadis. Hamper dulmain mencolot mendengarnya.
Untungnya saya pegangi tangannya, dan mengedip-ngedipkan mata supaya dulmain
segera menerejemahkannya. Dia pun akhirnya mengerti, dan tertunduk lesu.
“wak .. saya
pamit dulu wak masih banyak keperluan”
“ya sudah,
tapi saya nggak mau ijah kawin sama muka curut kayak gitu, nggak ada tampang
sarjana sedikit pun, lebih mirip tukang becak” kata wak karman masih dengan
nada yang geram.
Di tengah
perjalanan pulang ke rumah saya, dulmain hanya diam saja, mukanya suram, Saya
nggak berani meliriknya. mungkin dia menyesal ke kampung saya, apalagi sudah
mengongkosi saya.
“dul, tenang,
masih banyak kok gadis lainnya” tanya saya mencoba mengademkan pikiran dulmain
“sudahlah gus
saya pulang sajalah, nggak ada semangat lagi” kata dulmain lemah
Dan memang
benar, sorenya dulmain macam orang kena sawan. Dia uring-uringan minta cepat
pulang. Akhirnya terpaksa aku pun nurutin kemauannya, padahal rencananya masih
dua hari lagi dulmain main di kampung saya. Sejak itu, dulmain kayaknya benci
banget jika saya cerita-cerita tentang kampung saya, dan sudah barang pasti,
nggak akan ada lagi sebungkus pindah
tangan dari tangan dulmain ke tangan saya,, juga pulang kampung gratisss. Yaaaa,
andaikata ada sarjana yang belum
laku-laku, bolehlah main ke kampung saya.
Comments
Post a Comment