Sebagai seorang pujangga, Sudrun selalu menulis puisi-puisi yang romantis nan
melankolis sehingga banyak cewek klepek-klepek dibuatnya manakala membaca
puisi-puisinya. Puisi-puisi Sudrun juga banyak dimanfaatkan oleh pemuda-pemuda
untuk merayu gadis pujaannya. Tetapi rupanya karya-karya Sudrun sangat bertolak
belakang dengan kehidupannya sendiri. Sudrun tak pandai mendekati cewek,
apalagi sampai merayu-rayu dengan puisinya, walhasil tak ada satu pun cewek
yang jadi pacarnya. Salah satu teman menyarankan agar Sudrun mencoba
memanfaatkan puisinya untuk mendekati cewek dan ternyata saran itu sangat
mujarab ketika Sudrun sudah benar-benar muak dengan kesendiriannya. Maka pada
suatu ketika Sudrun pun mulai berpetualang mencari cewek.
Di sebuah jembatan, Sudrun
melihat seorang cewek sedang menangis. Sudrun menatap tajam dan membulatkan
tekad untuk mendekati cewek tersebut. Dan setelah semua keberaniannya
terkumpul, Sudrun mulai beraksi melancarkan jurus puisi-puisi mautnya.
“Duhai gadis idaman, sedang
apakah gerangan kiranya dinda berdiri disana?” rayu Sudrun mendekati sang cewek
“Tolong jangan cegah saya! Saya
Mau bunuh diri, saya sudah tidak tahan!” kata sang cewek
“Kenapa dinda, ada apa dengan
dirimu? kakanda siap membantu dinda?”
“Saya sedang patah hati, saya
sendirian sekarang, saya nggak punya tempat untuk bersandar”
“Dinda, jadikan kakanda sebagai
tempat bersandarmu, kakanda siap melakukan apapun”
“Benarkah? Baiklah saya mau jadi
pacarmu, tapi satu pinta saya, tolong jangan cegah saya untuk bunuh diri”
“Baiklah, kanda tidak akan
mencegah, namun sudilah berikan kecupan dinda yg terakhir sebagai kenangan”
Tanpa ragu sang cewek menghampiri
Sudrun dan memberikan kecupan yang sangat mesra lagi bergairah dibibirnya. Sudrun
pun membalas melumat bibir dan lidah si cewek yang mulai mendesah-desah membangkitkan
birahi. Setelah sekian lama mereka berciuman, Sudrun masih dirundung penasaran
tentang cewek yang baru saja menjadi pacarnya.
“Dinda, sungguh lembut nan
nikmatnya kecupanmu. Satu hal yang kanda mau tanya, kenapa dinda sampai mau
bunuh diri?” tanya Sudrun penasaran
“Hidup saya sudah tidak berarti
lagi. Kedua orang tua saya melarang saya berdandan seperti wanita ... hiks
hiks” jawab sang cewek sambil terisak-isak dalam tangis
“Cuih. Cuih.. Kampreet..najis …. Bencong
sialan lu,,, Ceburrrr ajah gihh luuuhhh sonoooo biar mampus sekalian!”
Comments
Post a Comment