Suatu sore ketika hendak membeli rokok di warung, saya ketemu Ustad
Rojikin di jalan. Ia pun menyapa besahabat dan mengajak saya ngobrol
barang sebentar.
“Assalamualaikum! Selamat sore, Nak, Dimas?” sapa sang ustad ramah
“Waalaikum salam, sore juga, PakUstad!” jawabku juga ramah
“Ini, Nak Dimas dari mana dan mau kemana?”
“Saya dari rumah mau ke warung Pak, mau beli rokok.”
“Oooh, gitu ya! Begini, Nak Dimas, saya sering melihat di jejaring sosial, Nak Dimas itu aktif sekali, yah seperti menulis puisi, karya-karya fiksi, dan tulisan-tulisan lainnya, apa Nak Dimas ini seorang penulis?”
“Hehe, begitulah, Pak, tapi mungkin masih sebatas penulis abal-abal, Pak, mengingat tulisan saya belum pernah dikirimkan ke media dan belum juga ada keniatan untuk itu!”
“Tak mengapa, Nak Dimas, tapi toh nyatanya banyak yang suka sama tulisan Nak, Dimas, saya sendiri pun mengakuinya!”
“Entahlah, pak, tapi sepertinya sih begitu”
“Boleh saya ngomongin sesuatu, Nak Dimas”
“Silahkan, Pak”
“Apa pekerjaan, Nak, Dimas”
“Saya Design grafis sekaligus teknisi di salah satu perusahaan, Pak!”
“Menurut saya, begini, Nak Dimas, mungkin sebaiknya Nak Dimas ini mengurangi aktivitas di jejaring sosial sebab saya lihat Nak Dimas ini aktif sekali dari pagi sampai sore sampai malam ketemu pagi lagi, apa tidak lebih baik waktunya digunakan untuk hal-hal yang bemanfaat atau untuk beribadah menambah pundi-pundi pahala saja!”
“Lagipula apa sih yang didapat dari aktivitas tersebut, kalau boleh saya tau?” tanyanya begitu menohok
“Tidak ada, Pak!”
“Nah, kan!”
“Iya, sih, Pak, … eh, boleh saya nanya balik nggak, Pak Ustad?”
“Silahkan saja, Nak Dimas!”
“Begini, Pak, e ... bagaimana Pak Ustad bisa tau kalau saya aktif dari pagi sampai sore sampai malam ketemu pagi lagi, Pak?”
“Ya, saya juga punya akun di pesbuk, toh Nak, Dimas, saya sering mengamati status-status sampean, entah itu puisi, cerpen, dan cerita-cerita lainnya!”
“Ooo, begitu, ya, Pak! Lantas kalau demikian, apa bedanya saya sama Pak Ustad?”
Pak Ustad pun cuma nelen ludah.
“Ini, Nak Dimas dari mana dan mau kemana?”
“Saya dari rumah mau ke warung Pak, mau beli rokok.”
“Oooh, gitu ya! Begini, Nak Dimas, saya sering melihat di jejaring sosial, Nak Dimas itu aktif sekali, yah seperti menulis puisi, karya-karya fiksi, dan tulisan-tulisan lainnya, apa Nak Dimas ini seorang penulis?”
“Hehe, begitulah, Pak, tapi mungkin masih sebatas penulis abal-abal, Pak, mengingat tulisan saya belum pernah dikirimkan ke media dan belum juga ada keniatan untuk itu!”
“Tak mengapa, Nak Dimas, tapi toh nyatanya banyak yang suka sama tulisan Nak, Dimas, saya sendiri pun mengakuinya!”
“Entahlah, pak, tapi sepertinya sih begitu”
“Boleh saya ngomongin sesuatu, Nak Dimas”
“Silahkan, Pak”
“Apa pekerjaan, Nak, Dimas”
“Saya Design grafis sekaligus teknisi di salah satu perusahaan, Pak!”
“Menurut saya, begini, Nak Dimas, mungkin sebaiknya Nak Dimas ini mengurangi aktivitas di jejaring sosial sebab saya lihat Nak Dimas ini aktif sekali dari pagi sampai sore sampai malam ketemu pagi lagi, apa tidak lebih baik waktunya digunakan untuk hal-hal yang bemanfaat atau untuk beribadah menambah pundi-pundi pahala saja!”
“Lagipula apa sih yang didapat dari aktivitas tersebut, kalau boleh saya tau?” tanyanya begitu menohok
“Tidak ada, Pak!”
“Nah, kan!”
“Iya, sih, Pak, … eh, boleh saya nanya balik nggak, Pak Ustad?”
“Silahkan saja, Nak Dimas!”
“Begini, Pak, e ... bagaimana Pak Ustad bisa tau kalau saya aktif dari pagi sampai sore sampai malam ketemu pagi lagi, Pak?”
“Ya, saya juga punya akun di pesbuk, toh Nak, Dimas, saya sering mengamati status-status sampean, entah itu puisi, cerpen, dan cerita-cerita lainnya!”
“Ooo, begitu, ya, Pak! Lantas kalau demikian, apa bedanya saya sama Pak Ustad?”
Pak Ustad pun cuma nelen ludah.
Comments
Post a Comment