Suatu ketika di malam Minggu, penyair kita
ngapelin pacarnya. Kebetulan sekali saat itu pacarnya sedang sibuk membantu
ibunya memasak lantaran ada acara besar keluarganya sehingga sang bapaklah yang
harus menemui penyair kita.
“Ehem … !“ si Bapak berdehem kecil
“Ehem …!” Penyair kita pun menyahuti dengan dehem
kecil pula
“Ada maksud apa saudara datang kemari?” tanya si
bapak kalem
“Seperti biasa, Pak, angin mengabarkan tentang
rasa yang hampir meredup sehingga membawaku kemari untuk menggelorakannya kembali”
jawab penyair kita begitu puitisnya membuat sang bapak mengerutkan dahinya.
“Saya tidak suka orang yang bertele-tele.
Jelaskan saja!” tegas sang bapak sedikit membentak
“Saya kira bapak dan jelita penggetar rasa
sama-sama memiliki jiwa yang sama terhadap apa yang sering saya torehkan hasil
dari imaji, tetapi rupanya berlawanan, tak apalah … bukankah tiap-tiap orang
itu berbeda, dan pastinya perbedaan itu unik”
“Saya tak mengerti apa yang saudara katakan, bisa
diperjelas!” si bapak mulai naik pitam
“Ah, bapak ini bagaimana sih, atau begini saja …
lihatlah daun yang bergoyang itu, Pak! Tentu ada yang menggerakannya, siapa
lagai kalau bukan angin, atau seperti rokok ini, pastinya tak akan menyala
tanpa pemantik, begitu juga saya, tiap malam tentu akan selalu terjaga sebelum
menuntaskan kemelut rasa yang bergelora lagi membara, apa bapak sudah mengerti
maksud saya!”
Sang bapak terdiam. Giginya gemeretakan.
Tangannya pun mulai dikepal-kepalkan. Ingin rasanya asbak yang ada di depan
matanya itu dilemparkan ke muka orang di hadapannya, tetapi beruntunglah
kesadaran masih menyelimutinya.
“Bagaimana, Pak? tanya si penyair kita mengira
kalau si bapak tadi sedang berpikir
“Begini saja, coba saudara jelaskan dengan
segamblang-gamblangnya atau saya usir saudara dengan tidak hormat!” ujar sang
bapak menahan emosi
“Sabar, Pak, … baiklah, sebenarnya kedatangan
saya kemari ini ingin menemui Ijah, anak bapak, kangen saya sudah begitu berat,
Pak” Jawab penyair kita dengan kalemnya
“Badalaaaaaah … dasar bocah gemblung, bilang dari
tadi …pasti saya usir sejak awal kau kemari … minggaaaaaat!!!”
Diusir sedemikian rupa, penyair kita pun ciut
nyali lantas segera menghengkangkan kaki, takut ditelan hidup-hidup sama si
bapak. Namun, beberapa saat kemudian ketika sang bapak hendak melangkahkan kaki
masuk, penyair kita datang lagi.
“Bocah gemblung … ada apa lagi, hah!” tanya sang
bapak geram
“Anu, Pak, … rokok saya ketinggalan!” jawab
penyair kita, mukanya kecut
“Sudah di situ saja!”
Sang bapak segera mengambil rokok di meja kemudian
melemparkannya tepat kena jidat penyair kita. Beruntunglah penyair kita tak
marah, kemudian ia segera mengambil rokok dan
pergi dengan seulas senyum yang entah apa terjemahannya. Rupanya sang
bapak juga ikut tersenyum penuh kemenangan lantaran berhasil mengusir penyair
kita karena dalam benak si bapak ini enggan sekali dengan calon menantu model
begitu, namun ada satu yang ia lupa kalau sebenarnya penyair kita waktu datang
tak membawa rokok barang sebatang pun.
Comments
Post a Comment