Sebelum menulis ini aku menghela napas panjang dulu. Ngopi, kemudian
melolos sebatang rokok dan menghabiskannya dalam waktu 10 menit. Yah, aku pikir
ini adalah sebuah motivasi buat para pegiat kata yang ingin terus belajar
berkarya sehingga dengan senang hati aku tulis saja.
Banyak orang beranggapan bahwa profesi tukang becak adalah profesi
dari golongan orang-orang kelas bawah, bahkan tak sedikit yang menyipitkan
matanya pada jenis profesi yang satu itu. Selain itu, para orang tua pun
mungkin akan ngamuk-ngamuk jika tahu ternyata anak gadisnya dipacarin tukang
becak. Miris memang nasib si tukang becak. Namun, jangan salah, sesuatu yang
biasa akan menjadi luar biasa tatkala ada
sesuatu yang muncul dalam dirinya dan orang-orang menyukainya.
Adalah si fulan (sengaja nama kusamarkan untuk menjaga privasinya),
kawanku yang berprofesi sebagai tukang becak. Dalam kesehariannya aku melihat
Fulan sebagaimana tukang becak lainnya, nongkrong di pertigaan, memanggil-manggil
penumpang, mengantarkan penumpang, dan sesekali nongkrong di warung kopi.
Namun, dari sisi itu ada yang luput dari pengamatanku. Aku tak tahu bagaimana
ketika Fulan di rumah, apa saja yang dikerjakan dan ketika aku telusuri lebih
jauh ternyata aku baru mengetahui kalau ternyata si Fulan adalah sorang
penulis. Memang selama ini si Fulan selalu pandai menyembunyikannya dariku,
padahal aku adalah kawan terdekatnya. Mengeni karya-karya si Fulan tak perlu
disangkal lagi, ente bisa menjumpainya di buku bon warungnya Mbakyu Ngatiyem.
Jika nggak tahu warungnya Mbakyu Ngatiyem, silahkan tanya kepada Sudrun, jika
tak kenal Sudrun, silahkan cari tahu siapa itu Sudrun, dan jika tak ketemu …
mati sajalah!
Comments
Post a Comment