JALAN PINTAS

Pagi-pagi, kupingku terasa pedas. Kicau istriku terus membusa kemana-mana. Padahal sabar sudah berbatas-batas.
“Pokoknya hari ini kamu harus dapat duit, titik!” bentak istriku.
“Duit dari mana, lha wong kamu tahu sendiri, kan kalo penghasilanku ya dari gaji itu, tidak ada sampingan apa-apa” jawabku
“Aku tidak mau tahu, Mas. Lagipula kamu itu laki-laki, coba kamu lihat tetangga kita, setiap minggu jalan-jalan, lah kita .. mas.., kita boro-boro jalan-jalan, buat makan aja susah, kamu tidak kasihan sama anak, ya”
“Tidak kasihan bagaimana, justru aku kerja banting tulang untuk menafkahi kamu dan anak kita!”
“Iya, tetapi selalu kekurangan, aku sudah tidak tahan hidup dengan kamu, Mas!”
bentak istriku lagi seraya menakar beras di dapur.
Mungkin kalo setan benar-benar menguasaiku, sudah kurobek-robek mulut istriku itu, tetapi setidaknya aku masih bersukur, aku melihat anakku yang masih tertidur sehingga segala kemarahanku buyar sudah. Kemudian, aku melenggang berangkat kerja tanpa pamit istriku.
Aku merasa lesu. Di kantor serasa tidak bergairah dan bersemangat. Kadang aku merasa geli sendiri ketika mendengar Bos berbicara. Bos selalu mengandalkan aku untuk setiap proyeknya, katanya, aku adalah aset berharga bagi perusahaan, aku adalah tulang punggung untuk kemajuan perusahaan, ya, memang benar, akulah mesin untuk kemajuan perusaahaan, tetapi bagi aku dan rumah tanggaku tidak. Bos tidak pernah tahu bagaimana kehidupanku di luaran sana, ini karena aku berhasil menipu diriku sendiri dalam bermain peran. Bos hanya tahu keuntungan-keuntungan yang di dapat untuk memperkaya dirinya, sementara aku begitu kere dan papa. Aku terhenyak dan sesak, sesak sekali dada ini.
Sebentar lagi tahun baru. Sudah pasti istriku minta jalan-jalan, atau anak minta dibeliin baju baru. Duh, semakin mumet pikiranku, sementara gaji hanya cukup buat bayar kontrakan dan beli beras buat kebutuhan sebulan. Belum lagi tagihan listrik, atau bayar utangku kemarin. Kepalaku teras ngilu jika sudah mikirin masalah duit. Mungkin aku harus berlari dan berteriak sekuat-kuatnya agar pecah beban yang ada di kepalaku ini.
“Hai, teman-teman, ada kabar gembira, Nih!” teriak Suryo, teman sekerjaku yang baru saja datang.
“ Kabar gembira apa, Yo?” tanya Ningsih
“ Sally, mo Nikah, kita harus kasih kado istimewa buat dia, bagaimana?” kata suryo.
Aku hanya terdiam, bagiku ini bukan kabar gembira, tetapi malapetaka. Sudah barang tentu gajiku dipotong buat iuran untuk kado Sally. Terbayang sudah, bagaimana istriku dengan wajahnya yang masam akan menghardiku. Duh, mati aku. Tetapi, mau gimana lagi, semua teman pasti mengeluarkan iurannya. Aku pun tidak ingin malu, apalagi Sally adalah teman baikku. Aku harus ikut mengeluarkan iuran juga, walau dengan ancaman kena hardik istriku, aku berani mengambil resiko itu daripada menanggung malu di kantor atau dikira pelit.
Gajian masih seminggu lagi. Istriku sudah ngitung-ngitung anggaran apa saja yang bakal dikeluarkannya nanti, ini tidak termasuk anggaran buat iuran kado Sally. Rinci sekali itungan istriku itu, gaji yang besarnya cuma semelekete itu dibaginya rata untuk berbagai kebutuhan dan sisanya hanya sepuluh ribu rupiah. Sisanya itu mungkin buat beli jajan anakku. Aku khawatir sekali karena aku belum membicarakan anggaran buat iuran kado. Karena aku khawatir, paling-paling aku pilih jalan alternatif, ngutang sama teman dan ngembaliinnya entah kapan.
“Mas, nih sudah kukalkulasi semuanya, sisanya sepuluh ribu!” kata istriku
“Yah, sisanya buat kamu aja, aku gak minta”jawabku lesu.
“makasih ya, mas, mas baik sekali” sambut istriku, kemudian pipiku diciuminya. Padahal dalam hatiku menangis perih. Kasihan sekali istriku, duit sepuluh ribu saja dia seneng banget. Duh, Tuhan, kapan aku bisa memberikan uang yang banyak kepada istriku? Kapan aku bisa mengajaknya ke supermarket, berbelanja seperti orang-orang, atau sekedar makan bakso. Dan anakku, ayahmu ini belum bisa membahagiakanmu, ingin sekali rasanya aku mengajakmu bermain di time zone, agar kamu bisa menikmati berbagai macam mainan, tetapi uang ayah hanya cukup buat naik odong-odong. Itu juga seminggu dua kali, mengingat minimnya anggaran belanja.
Hari-hariku suram. Semuanya serba monoton, berantem tiap pagi, suasana kerja yang tidak menggairahkan, dan seabrek persoalan-persoalan yang menyangkut ekonomi bergelayut di pundakku.
Sepulang kerja perasaanku tidak enak. Aku mencoba menghilangkan perasaan tesebut dengan berbagai cara. tetapi, rupanya benar perihal perasaanku, tenyata mertuaku dan adik istriku datang dari kampung. Adik iparku liburan sekolah dan pengin main di jakarta. Bayangkan saja liburan seminggu, ini berarti aku harus mengeluarkan anggaran tak terduga. Dan entah apa yang dapat kulakukan nantinya karena sekarang yang ada dalam pikiranku pusing dan pusing. Sebenarnya aku juga senang dengan kedatangan mereka, tetapi aku merasa risih sekali karena kondisi keuanganku yang morat-marit. Jangankan makan enak, uang makan yang kuperoleh tiap minggunya saja kadang macet di tengah jalan. Terpaksa untuk bertahan hidup kadang pinjam juga, atau malahan kadang aku dan istriku puasa sampai mendapatkan uang makan lagi. Mertuaku juga rada-rada payah. Bagaimana mungkin, aku yang baru menikah dua tahun dengan anaknya itu disuruhnya cepat kaya, padahal aku mulai bekerja ya sesudah menikah. Aku kadang jemu tiap kali mertuaku membicarakan masalah materi. Apalagi jika aku dibandingkan dengan anak-anaknya yang lain yang sudah mapan hidupnya. Aku kesal sekali.
Istriku selalu menyuruh aku untuk pindah kerja yang penghasilannya lebih gede, atau buka usaha sendiri. Tetapi, aku tidak dapat mengabulkan permintaan istriku itu, “dia pikir jaman sekarang cari keja gampang apa, terus kalo mau buka usaha modalnya modalnya mau pake dengkul” pikirku. Perkataan dalam pikiranku ini sudah semestinya tekubur dalam-dalam, tak berani kulontarkan jika tidak ingin kena damprat. Lagi-lagi aku menyerah dan hanya berkata nanti dan nanti atau alasan-alasan yang sekiranya dapat menenangkan pikiran istriku.
Dua tahun aku bekerja di sebuah perusaahaan kecil dan dengan gaji kecil pula. Sebenarnya aku senang bekerja di perusahaan ini karena sudah sesuai dengan bidangku. Kata orang, jika bekerja sesuai dengan hati nurani, kita akan merasa nyaman dan hati akan tentram. Memang hatiku merasa nyaman di perusahaan ini, tetapi kantongku yang menjerit-jerit. Aku masih ingat ketika aku mendapat bonus satu juta rupiah karena proyek yang kukerjakan berhasil dan menghasilkan keuntungan ratusan juta rupiah bagi perusahaan. Kala itu, istriku begitu berbunga-bunga dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya selama seminggu karena duit sebesar itu kami gunakan buat senang-senang selama seminggu, maklum pengin merasakan kebahagiaan sesaat. Setelah duit tersebut abis, ya seperti sediakala lagi.
Bukan hanya istriku, aku sendiri merasa tidak nyaman hidup dalam kondisi seperti ini. Jalan satu-satunya aku harus mencari solusinya. Aku selalu berooa agar Tuhan memberikan jalan keluarnya. Dan Tuhan pun rupanya mendengar doa-doaku ini. Saat berangkat keja aku melihat halaman depan sebuah bank, banyak kendaraan berjajar tanpa ada yang memarkirnya. Aku dapat ide, yaa aku akan menjadi juru parkir dan ini dapat kulakukan selepas kerja. ideku sangat cemerlang dan briliant. Setiap kendaraan yang parkir akan kukenakan tarif dua ribu. Bayangkan saja, misalnya dalam sehari ada seratus kendaraan, uang yang kudapat dua ratus ribu rupiah, meggiurkan sekali, coba bayangkan dalam sebulan. Dengan menjadi juru parkir, hidupku pasti berubah. Sementara gajiku nantinya dapat ditabung. Aku tersenyum sendiri membayangkan semuanya itu. Gembira sekali aku. Aku sudah tidak sabar ingin memberi kejutan kepada istriku perihal ideku ini. Istriku pasti akan senang sekali. Selepas kerja, dengan langkah cepat aku pulang ke rumah.
“Min,.. Min.. aku punya sesuatu untukmu” kataku.
“ Sesuatu apa mas, lha wong kamu tidak bawa apa-apa kok’’ ukas istriku.
“Begini lho Min, aku punya ide bagus sekali. Min, hidup kita bakal berubah, atau bahkan kita akan menjadi kaya, Min”
“kaya bagaimana, memang ada apa sih Mas?”
“Anu Min. aku dapat sampingan. Kamu lihat bank di depan kan? Nah, aku akan menjadi juru parkirnya Min, bayangkan min jika setiap kendaraan yang parkir kukenakan tarip dua ribu, lha misalnya ada seratus kendaraan, jadi dua ratus ribu kan Min, bagaimana, ideku cemerlang bukan?” kataku sembari menyantap pisang goreng yang sudah dingin.
“ Apa!!! Kamu mau jadi tukang parkir? Apa kamu tidak malu mas, kamu itu sarjana, kamu itu tidak pantas kerja begituan, Pokoknya aku tidak setuju, apa kata orang, jika suaminya si minah itu tukang parkir, dan kamu tahu mas, orang tuaku pasti akan mengejek kita habis-habisan” bentak istriku.
Seketika pisang goreng yang baru kutelan terasa nyangkut ditenggorokan, kegembiraan yang baru saja muncul luluhlantak berserakan. Pedas sekali kata-kata minah itu, tidak pernah mendukung sedikit pun ideku. Masih dalam pikiran tak menentu, aku bergegas mengambil air wudlu untuk menenangkan pikiran dan sekaligus mencegah terjadinya perang dengan senjata mulut. Setelah sholat, aku langsung tidur dan kudengar sayup-sayup istriku masih ngedumel sambil menyusui si buyung.
Tidur adalah obat yang mujarab bagiku untuk menenangkan pikiran yang sedang kalut. Apalagi jika banyak problem. Kadang utnuk bangun pagi, aku meras sungkan karena aku tahu, tiap kali bangun aku tidak seperti suami pada umumya yang kalo mau berangkat kerja disediakan secangkir kopi dan pisang goreng atau makanan apalah. Sementara aku, harus sarapan dengan omelan dan perut keroncongan, serta kondisi loyo dan tak bergairah. Mungkin jika lama-lama begini aku akan terserang penyakit, entah penyakit apa yang akan menimpaku nanti.
Aku tidak dapat menyesali apa yang sudah terjadi. Lagipula keinginanku menikah dengan Minah adalah atas kehendakku sendiri. Orangtuaku dulu pernah mengatakan, jika terjadi apa-apa aku harus menanggung sendiri, orang tua hanya bisa ngasih saran dan pendapat. Sebagai manusia, aku juga punya penyesalan yang amat dalam, mengapa dulu aku harus menikah muda dan berani-beraninya mengambil langkah yang terlalu dini. Tetapi, dulu yang ada dalam pikiranku hanya cinta yang begitu besar kepada si Minah. Benar juga kata orang, setelah menikah aku kena batunya, cinta tidak bisa dimakan. Untuk menghalau penyesalan-penyesalan yang kadang muncul, aku bermain catur atau sekedar ngobrol dengan teman-teman sampai larut malam. Pulang-pulang seperti biasa, wajah masam dan makian sudah di depan mata.
Sebenarnya sudah lama aku memendam kerinduan pada kampung halaman. Aku ingin pulang dan bersimpuh, serta mengadu keluh kesahku selama ini kepada ibu, tetapi untuk pulang saja aku kesulitan ongkos. Ibuku mungkin tidak pernah tahu kalo anaknya ini kondisinya begitu memprihatinkan di Jakarta. Mungkin jika beliau tahu akan menangis melihat aku yang begini. Aku hanya bisa pulang kampung setahun sekali, itu saja kalo lebaran, kalo tidak ada lebaran mungkin aku tidak pulang. Untuk pulang kampung saja, aku harus menunggu uang thr dari. Adapun buat ongkos balik ke jakarta aku harus menjual ini itu, bahkan orangtuaku pernah mengongkosiku. Aku sangat malu sekali, tetapi mau bagaimana lagi. lebaran kemarin saja aku tidak bisa ngasih apa-apa sama orang tuaku. Kata ibuku aku sudah bisa pulang saja, ibu sudah merasa senang.
Memang, sesekali waktu kadang aku telepon ibu, itu juga aku main sembunyi-sembunyi sama istriku. Buat telepon aku kadang menyisihkan uang makan lima ribu, tentu saja tanpa sepengetahuan istriku. Ingin sekali rasanya aku ngirimin uang buat orangtua di kampung, tetapi rasa-rasanya itu hal yang tidak mungkin sekali. Untuk makan saja aku masih ngutang kesana kemari.
Kadang aku berpikir, aku sebagai anak bungsu mengapa hidup dalam kondisi serba kekurangan, padahal saudara-saudaraku bergelimang harta, usahanya sukses. Tetapi aku, kehidupan ekonomiku 180 derajat kebalikan dari mereka. Banyak orang bilang kalau aku merintis saja usaha seperti saudara-saudaraku, atau pinjam modal buat buka usaha. Tetapi, rupanya uang tidak mengenal saudara. Ketika aku mencoba mengutarakan keinginanku kepada saudara-saudaraku, apa yang kudapat, pelecehan dan hinaan saja yang selalu mereka tujukan kepadaku.
“Kamu tidak punya otak, ya? Kamu itu sarjana mbok, ya cari kerja yang duitnya banyak, terus kumpulin tuh duit buat modal” kata saudaraku.
“nyari kerja sekarang susah, apalagi jaman lagi krisis begini, tolong kali ini saja pinjamin aku modal buat usaha, Kak” tukasku.
“yang krisis bukan jaman ini, tetapi kamu! Aku takut kalo nanti kamu tidak bisa mengembalikannya, kamu tahu kan, kalo buat makan saja kamu itu kelabakan?”
“ya sudah kalomemang nggak mau minjemin, gak usah pake menghina begitu!”tukasku seraya angkat kaki dari rumah kakaku.
Hatiku miris sekali, seorang saudara yang seharusnya bisa menolong adik, tetapi malah mencampakkan dan menderanya dengan penghinaan. Sungguh memilukan nasibku ini. Memang benar apa yang orang katakan ‘orang lain kadang lebih baik dari saudara’, dan aku sendiri mengalami hal ini. Malah banyak teman-temanku yang membantu aku jika aku sudah sangat kepepet sekali.
“bagaimana mas, dapet?”tanya istriku sewaktu aku tiba di rumah.
“dapet min, dapet penghinaan”jawabku lirih
“apa kubilang mas, saudaramu itu memang tidak punya hati, tidak punya rasa bela kasihan, kalo orang lain pinjem dikasih, tetapi kamu mas, kamu adiknya sendiri malah seperti orang lain, aku benci saudara-saudaramu, Mas!”
“sudah..sudah Min, biar bagaimana pun mereka itu kakakku, kamu tidak boleh menjelek-jelekknya”
“tetapi kenyataannya begitu mas” kata istriku seraya bulir-bulir air matanya mulai berlinangan. Jika sudah begini, aku tak dapat berkata-kata lagi. aku paling tidak tahan kalau istriku menangis. Tenggorokanku kelu sekali, rupanya aku juga tidak dapat menahan air mataku. Akhirnya, sambil berpelukan aku dan istriku menangis bersama. Menangisi sesuatu yang menyesakkan di dada. Menangisi nasib yang tidak pernah berubah.
Rupanya aku dan istriku menangis sampai ketiduran. Esok pagi, sinar matahari menerobos langit-langit membukakan mataku. Aku dan istriku pun langsung terbangun dan melanjutkan ritnitas kami. Istriku berbenah-benah mengurusi pekerjaan rumah tangga, sementara aku bersiap-siap berangakat kerja. sepertinya semalam tidak pernah terjadi apa-apa.
Tengah bulan memang selalu menyebalkan. Beras hampir abis, anakku yang merengek-rengek karena susunya kurang manis, ini karena kadarnya dikurangin buat memperpanjang usia susu , dan segala perlengkapan dari yang namanya bumbu dapur sampai mck benar-benar sudah geripis. Buntutnya, jika sudah begini aku sibuk cari utangan. Kalo kupikir-pikir nyari utangan juga sudah menjadi rutinitasku sehingga tanpa malu-malu lagi jika aku mengutarakannya kepada siapa pun yang akan kujadikan sasaran.
Aku benar-benar sudah tidak punya muka lagi ketika utang sudah menumpuk. Pikiran mulai kacau, setan-setan mulai jahil membisikan untuk berbuat kriminal. Tiap hari ceracau istriku malah makin menjadi. Aku kalap, kutampar mulut istriku itu keras-keras. Tangisannya tak lagi kupedulikan. Anakku juga ikut-ikutan menangis. Aku seperti orang kesetanan. Beras yang tinggal seliter kuhamburkan dilantai, gelas juga kutendang keras-keras hingga pecah berkeping-keping kemana-mana. Tangisan istriku makin menjadi melihat keadaanku. Kemudaian aku masuk kamar, berteriak dan menangis sekuat-kuatnya. Aku tidak kuat lagi, aku tidak kuat lagi, begitu teriak yang keluar dari mulutku.
Beberapa saat aku terdiam, teriakan dan tangisanku reda. Kulihat istri dan anakku sudah tidak ada. Aku mulai bingung dan mencarinya. Aku bertanya kepada siapa saja yang kujumpai. Namun, tidak kutemukan juga. Semakin bingung dan nanar mataku. Aku pun kembali ke rumah dengan perasaan cemas dan khawatir. Di atas meja kutemukan secarik kertas yang jelas-jelas berisi tulisan tangan istriku. Kupungut kertas itu dengan hati penuh masgul. Dalam surat itu tertera tulisan yang sangat menghancurkan hatiku. Istriku pergi, pulang ke kampung halaman beserta anakku, dan intinya dia minta cerai dan cerai. Aku terduduk lemas, kupegangi dada yang semakin sesak. Bibirku terkatup tak dapat berkata apa-apa. Penyesalan dalam hati mulai berkecamuk. Tangisan tak dapat kubendung lagi. Aku berdiri dan entah sepertinya ada sesuatu yang menggerakkanku menuju ke dapur, mengambil bangku dan tali, kemudian menyuruh tanganku untuk mengikat leher ini dan menggantungnya di tiang-tiang rumah. Semuanya kulakukan dengan rapi hingga keesokan harinya banyak tetanggaku mengerumuniku. Perasaan jijik dan sumpah serapah terlontar dari mulut mereka, terutama tetanggaku yang kuutangi. kutatap mereka dengan mata kosong dan lidah yang terjulur kaku. Orang-orang mulai menggotong tubuhku yang kaku. Ada yang menutup mataku, ada yang memasukkan lidahku, dan ada yang menyedekapkanku.
Sesaat kemudian, istri dan anakku tergopoh-gopoh menyongsong meratapi tubuhku. Isak tangis mereka menjadi-jadi. Dalam pada itu, istriku mengungkapkan semuanya, sebenarnya dia tidak pulang dan tidak ingin minta cerai. Dia hanya pergi ke rumah kakakku untuk menenangkan pikirannya. Sementara dari dunia yang lain, aku hanya bisa menangis menatap istri dan anakku. Sesal tak dapat kutolak, semuanya sudah serba terlanjur. Kini aku harus menjalani hidup yang baru, hidup di mana aku terbebas dari segala derita dunia.

Comments