Bro, ane punya sohib namanya Darsono.Dari namanya saja ente mesthi
kepikiran kan kalo sohib ane itu termasuk produk lawas alias manusia jadul, kalu
sekarang nama yang begituan mungkin sudah dikandangin dalam museum kosanama.
Darsono itu kebetulan seorang karyawan disalah satu perusahaan kecil dengan
gaji kecil pula makanya perjalanan hidup Darsono itu penuh suka duka, tetapi
lebih banyak dukanya ketimbang sukanya. Adapun bagi Darsono, rasa suka itu
datang manakala kalau tanggal muda. Itu saja nggak pakai lama. Barang sehari
dua hari hilang entah kemana. Raut mukanya pun kembali bermuram durja. Ngenas
bro. sebagai sohib ane ikut merasakannya.
Hari ini Darsono berkunjung ke rumah ane dengan membawa segudang cerita
pilu menyayat hati. Istilah tepatnya mungkin jeritan hati kali, ya? Seperti
biasa bro jeritan hati ditanggal tua. Sungguh Ane tak tega denger ceritanya.
Apalagi ngliat wajahnya yang bermuram durja, seperti mendung pada mega-mega.
Hadoooh … pengen nangis Ane bro. Sungguh nggak pake terlalu.
Sejurus kemudian ane pun buatin kopi buat Darsono. Kata Darsono ini
kopi ketiga belas yang sudah nyelonong di tenggorokannya. Sebelumnya Darsono
sudah berkunjung ke sohib-sohib lainnya yang kalau diitung jumlahnya 12 dan Ane
yang ke 13. Laknatnya, dari keduabelas sohib, tak satu pun yang nyuguhin nasi
beserta lauknya. Kopi lagi kopi lagi termasuk Ane juga. Maklum bro sama-sama
tanggal tua. Akhirnya ketika hari sudah sore Darsono pamit. Ane pun hanya bisa
melambaikan tangan sembari mendoakan semoga nemu duit di tengah jalan buat
makan.
Dari kisah sohib Ane, ternyata argumen
yang selalu menyetani seseorang bisa dipatahkan, yakni, kalau ada yang
bilang nggak pernah takut selama orang itu masih makan nasi maka yang bilang
begitu harus takut sama Darsono. Seharian Darsono perutnya cuma terisi tiga
belas kopi. Keeseokan harinya ane dapat kabar miris, Darsono mencret-mencret.
Comments
Post a Comment