HUMAIRA
Entah pada ujung
jalan mana kita tempuh sekalipun kadang selintas memikirkan soal itu. biarlah
kupasrahkan semuanya kepada jam-jam yang tergantung di kotamu untuk mendedah. Sekarang
bagiku kini, mengikuti alur yang telah terbit, menyusuri apa kata nurani, tanpa
pernah mencari atau memetakannya dari berbagai segi.
Sungguh memang, ini
sulit terpahami, sebab kendatipun kita pernah mencoba bermain-main dengan
logika, pada kenyataanya tak pernah terdeteksi. Ini memang gila, segila nero
saat membakar roma, tetapi romantik, seromantis jahan kepada mumtaz, bahkan
makin menyelaminya kutemukan berbagai keelokan yang tak pernah luntur, seperti
Isfahan dengan keramik mozaik penuh perpaduan warna.
PROSESI CINTAKU
Aku telah
menjelajah lembah-lembah yang curam, batu-batu yang diam, menghempaskan angin
yang datang dan ingin menerobos celah tingkapmu lalu kutangkal ia dengan segala
daya, agar engkau tahu bahwa cintaku memang tak pernah sia-sia. dan kemudian
kau bertanya, “mengapa?” maka aku hanya bisa menjawab ini, humairaku:
“Aku telah
begitu jauh menempuh perjalanan takdir panjang untuk menemuimu lalu menembus
jantung kotamu. di sana, aku mendedah satu satu tumpukan nama-nama yang
tersemat dalam kotak kayu. kemudian, aku berlarian ke sana kemari ketika
kutemui diriku tersimpan dan kau hiasi dengan bunga anyelir ditiap sisinya
untuk menemani hari-harimu.”
SIMBOL CINTA
Aku dan kau
tak memerlukan isyarat, simbol-simbol, atau tanda-tanda untuk menyatakan apa
yang terasa karena lewat mata kita bicara, sekalipun bibir mengunci ribuan
bahasa. Namun, pada kenyataannya, kasih itu terlumat dengan rasa, bukan kata,
sebab perumpamaan hanyalah pemanis roti di meja kita.
HANYA NAMAMU
Aku seperti
mengalami sebuah ekstase ketika melihat wajahmu di awan, kemudian jemari tanpa
kendali mengetuk huruf-huruf yang berderet, entah jadi puisi atau apa. saat aku
melayang dengan wajahmu yang membayang, satu-satunya yang kuinginkan kata yang
terbentuk adalah namamu, namamu saja.
SENJA DI MATAKU
Seperti
biasa, ketika cahaya matahari keemasan sebelum tenggelam di ufuk barat, kau
selalu duduk di beranda itu. Aku suka melihat caramu menikmati senja, seperti
mataku yang penuh kehangatan dan cinta ketika kau lihat secara langsung tanpa
harus mengejapkan mata maka tataplah mata ini sayang dengan kedalamannya,
semburat warna-warni cahaya senja di mata ini selalu untukmu, meskipun kadang
awan bernuansa kelabu dan ungu.
UNTUK SEBUAH SENYUMAN
Sampai
kata-kata disyairkan, bibir tak pernah lelah mengatakan, rindu yang terus
dikesiurkan dan selalu hinggap di jendela, adalah rutinitas cinta. Sebagaimana
kita yang tak pernah memandang prosesi nanti, juga membunuh ketakutan-ketakutan
bayang-bayang fatamorgana, di sinilah sukma kita dipertemukan dan saling
merindukan. Sekalipun kepedihan menikam, ia takkan pernah dapat memisahkan
sebab bunga-bunga di tamannya selalu bersemi, tertanam sebelum mengenal kata
pergi. Lihatlah, benihnya kuat dan selalu tumbuh
dalam sanubari. Kemudian bersama kita mengitari sungai kehidupan kita.
Mencoba membuang kerikil-kerikil tajam sampai tubuh kita menggigil ngilu,
tertatih pilu, namun binar mata terpancar ketika melihat wajah yang berkelopak
dengan senyum berkuntum-kuntum.
KATA-KATA YANG TAK BISA DIRASIOKAN
Aku selalu
ingin menulis, apa saja kutulis. burung yang bercicit, daun-daun yang menari,
angin yang berkesiur, bunga-bunga berkelopak, langit yang teduh, awan yang
berendengan, dan bulan yang menjaga malam. semua itu kurangkum menjadi dirimu
dalam bait-bait puisi yang kukekalkan sebagai rahasia bahasa cinta yang tak
terbuncahkan dari bibirku yang terlalu kelu menyebut namamu.
PERIHAL TANGISANKU
Aku menangis
bukan sebab bersedih, bulir-bulir mata ini selalu membahasakan ketika segala
sesuatu tak mampu terkatakan. maka jangan bertanya lagi seberapa besar
keinginanku kepadamu karena seharusnya tanpa bertanya kau telah tahu dengan
melihat mata yang telah basah pun segurat senyum yang selalu rekah.
PIGURA CINTA KITA
Kaulah hujan
yang datang itu, humaira dan akulah kemarau yang dibibirnya terucap doa-doa
agar kita dipertemukan dalam musim yang dirindukan. Lalu, anak-anak katak
bernyanyi riang berkecipak dan menari dalam riuhnya tetesan demi tetesan.
Lihatlah,
daun-daun di sana membuka matanya. Ia mengucap salam kepadamu. Pun
rumput-rumput yang basah, ada yang hendak disampaikannya, tetapi mereka
terlampau gembira. Mari, mari kita tunaskan nafas cinta kita, dengan kau yang menyirami dan aku yang menguatkan akar-akarnya hingga
bersemi, bertebaran bunga-bunga dan mereka akan menangis tersentuh melihat
kita.
SEBAB KASIHMU, HUMAIRA
Pada matamu
yang salju, aku membekukan luka di sana. Sebagaimana engkau tahu, kaulah pualam
yang menjelma digelap malam, membelaiku dengan jemari kasihmu yang sutera
berkilauan seperti mutiara yang dengan kesabaran kau memintalnya lalu
menjadikannya selimut saat dadaku berpendar.
Humaira, tak
ingin sedikit pun aku melihat titik air di sudut mata itu. Kalau sampai ia
menetes maka kedua tangan inilah yang akan menangkup lelehannya untuk kemudian
kureguk dan kulumatkan menjadi noktah cerah di
wajahmu dan jangan biarkan bibirmu mengulas getir, sekalipun sejenak,
sebab cintaku bukanlah sebuah tabir yang harus kau sibak tirainya. Ia kini
telah esa dalam dirimu, apa yang terasa kita akan saling merasakan.
KARENA AKU MENCINTAIMU
Ketika mereka lebur
dalam canda tawa bertemu kekasihnya aku lebih memilih menangis sebab rinduku
yang begitu lembah tak tertahan sudah tertimbun dalam rusuk yang patah. Telah
kukumpulkan butir demi butir pasir untuk membuat rumah agar kau mau
berlama-lama singgah pun kujaga kebunnya sebab hanya kau saja yang kuinginkan
untuk memetik bunganya. Kekasih, karena aku mencintaimu perkenankanlah aku jadi
udara yang kau hirup merasuk dalam aliran nafasmu, perkenankanlah aku jadi
detak dari jantungmu, perkenankanlah aku jadi apa saja yang terlihat dari tiap
tatapan bola matamu.
KUPU-KUPU KUNING
kemarin kupu-kupu
kuning melintas dalam mimpimu. ia terbang sendiri, kadang hinggap di tanah,
pepohonan. namun, katamu, kupu-kupu itu tak tampak menghisap bunga-bunga yang
tengah bermekaran. kemudian, kau bertanya malu-malu tentang itu kepadaku,
humaira.
sejenak aku tertawa
melihat rona merah di lesung pipitmu dan aku terus menggoda. kau tersipu, panas
pipimu. kemudian kutatap hitam matamu tempat di mana kau menyimpan segala
tentang aku.
humaira, kemarilah.
tentang kupu-kupu kuning itu, ia hanya muncul pada saat terjadi peralihan
musim. coba kau ingat-ingat bagaimana gerak geriknya, ia terbang kemana
selanjutnya. dari sana kau akan menemukan tanda akan terjadi perubahan semesta.
untuk itu humaira, aku hanya ingin kau selalu menjaga tubuhmu sebab pada musim
seperti itu seringkali keburukan menimpa siapa saja.
KUACI DI BERANDA ITU
Kau pernah cerita
tentang hari-harimu. Di beranda itu, kau habiskan sekantung biji matahari untuk
menungguku. Aku suka sekali caramu menunggu begitu. Sebagaimana tanaman semusim
dari suku kenikir-kenikiran itu, kau selalu setia mengikuti kemana arah
matahari bergulir dan akulah yang menjadi mataharimu. Kemudian, pada saat aku
tiba, pipimu merona, merah kekuning-kuningan dan tampak di sana kau begitu
ceria. Lalu, di beranda itu, kita bersama menghabiskan biji matahari dan
bercerita tentang apa saja. Ah, Humaira aku sangat suka, melihat kau tertawa
dan bermain-main dengan kulit biji matahari itu.
TTS KESUKAANMU
Selain diary, aku,
lalu apalagi kalau bukan tts untuk mengisi waktumu. Aku kadang cemburu ketika
kau serius dan memikirkan petak-petak silang itu. Bagaimana ia bisa merebut aku
darimu. Aneh, tapi biarlah karena sesulit apapun ia menguras pikiranmu, takkan
pernah mampu menguras hatimu, sebab di sana tak kujumpai apa-apa, selain aku.
CINTA INI SEPUTIH MELATI
Cinta ini,
seputih melati dengan himne suci yang kusenandungkan dalam kesunyian malam
menjelang lelapmu agar selalu terngiang sebagai pengantar mimpimu. Paginya, kau
akan dapati masih utuh dalam genggaman tanganku. Pun tak akan pernah berubah
sebagaimana melati, selalu derana akan sikapnya, kemana angin membawanya, ia
kan kembali semula, tetap menjadi putih meski terpaan panas terik hujan silih
berganti. Begitu pula semerbaknya cinta ini, terus
menerus akan menebarkan keharuman dalam jantungmu. Lalu, setelah ini aku
berharap, tak akan ada lagi yang ingin kau pertanyakan perihal cinta ini,
kekasih.
SEDIKIT TENTANG IMPIANMU
Pada hari
itu, sesuai impianmu, kita akan berlayar dengan biduk kecil dengan
kelopak-kelopak mawar berserakan di geladaknya. Lalu, kau mengambilkannya satu
untukku meskipun jemarimu tertancap durinya, namun senyummu tak pernah kikis
bahkan tercurah teramat manis. Sungguh pada saat itu, aku tak rela hingga gegas
bibirku melulum jemarimu yang terluka senantiasa agar sedikit pun tak menetes
sebab aku akan lebih perih merasakannya.
LILITAN PERAK
Dibias air
matamu, tak kutemui sebuah skenario sebagaimana layaknya mereka yang terisak
semu karena mendamba. Namun, sebab perasaanmulah yang mengendalikannya
sekalipun terluka karenanya dan bagiku itu teramat berharga, pula menjadi
sebuah kunci pada lilitan perak yang kau lingkarkan di pergelanganku, humaira.
AIR MATA KITA
Disaat
seperti ini aku ingin memanggilmu dengan nama kesayanganku,
lalu kubenamkan kepalamu dalam dadaku dan kulingkarkan kedua tanganku erat-erat di punggungmu.
lalu kubenamkan kepalamu dalam dadaku dan kulingkarkan kedua tanganku erat-erat di punggungmu.
“Sayang,
kebahagiaan kita dibangun di atas air mata dan betapa mahal harga untuk tiap
tetesnya karena ini aktualisasi alami tanpa kita sadari maka apa yang terjadi
ini bukan kebetulan semata dan tak akan sia-sia, lihatlah garis tangan ini, ada
jalur jalur yang menuju tentangmu dan kau pun begitu, mai, pada tanganmu ada
sealur garis yang menghubungkan kita dengan segala peristiwa-peristiwa yang
sama!”
Niscaya, kau
dan aku akan saling menopang dada tanpa pernah bertanya untuk apa, pun dengan
kesanggupan serta kerelaan kita saling melebur—aku dalam kau dan kau dalam aku.
KAULAH KUPU-KUPUKU
Dan kau akan
tetap menjadi kupu-kupuku yang selalu menyinergikan nafasku dengan
kuntum-kuntum bunga, madunya kau sesap dengan bibirmu lalu kau tebarkan pada
jalanku hingga aku mampu melintasi episode tiap kisah ini dengan dada yang
terbuka.
PERTANYAAN KONYOL
Pada suatu
ketika aku mencoba bermain-main dengan pertanyaan konyol dan itu kulontarkan
kepadamu.
“Bagaimana
caramu merindukan aku?” tanyaku
Sejenak kau
termangu menatapku, menarik nafas panjang dan mengucapkan kalimat begitu
syahdu.
“Entah, tapi
biasanya aku menyiapkan roti di meja, kemudian aku pandangi saja sekalipun
perutku terasa lapar, dan aku menunggu tanganmu mengambilkannya untukku!”
Sejak saat
itu, aku tak mau bermain-main dengan pertanyaan-pertanyaan lagi karena
jawabanmu telah membuat mataku sembab dan tenggorokanku tercekat. Segera
kupeluk kau erat-erat dan membisikan bahwa rinduku pun tak jauh-jauh dari itu.
ENTAH
Entah, apa
kau pernah merasa bosan membacanya? Melalui nirkata mungkin aku sering
mengungkapkannya, sehingga dengan kata-kata inilah aku ingin mengutarakan lebih
dari apa yang tak mampu terkata, seperti misalnya saat kau berbaju merah dan
tersenyum simpul, aku rasanya seperti mengulum gula-gula. Kemudian pita
ingatanku langsung berputar dan merekamnya sehingga itu akan menjadi nostalgia
paling manis saat aku merindu rupa.
Entah, apa
kau akan lupa nantinya ketika kita tak lagi duduk di beranda? Maka hanya
kata-kata yang kutulis berlembar-lembar di halaman buku kita itulah yang mampu
membangunkan ingatanmu tentangku, dan semua apa yang tertera akan membuatmu
menangis pula tertawa.
YANG AKU INGAT DARIMU
Selain
bentuk bibirmu yang padat dan wajahmu yang bulat, satu lagi yang terus aku
ingat, tapi aku tak mau mengatakannya sebelum kau berjanji, aku tak kau marahi.
Ketika itu, antara berdebar dan cemas kau pun menanti.
Setelah
cukup kau lama mengkaji raut wajahku yang tak ada tanda-tanda melucu, akhirnya
kau menyanggupi permintaanku. Pada saat itu, aku tersimpul melihat wajahmu yang
sungguh-sungguh serius begitu. Lalu, aku pun membisikan sesuatu, lantas kau
tertawa mendengarnya, setelahnya kau terus berkata-kata tak ada jeda, nah itu
satunya yang terus kuingat, Humaira.
SAAT ITU
Aku hampir
mati cemas karena tak mampu berbuat apa-apa selain berdoa. Saat itu, ketika
suaramu lenyap tiba-tiba dan yang kudengar ada yang lepas dari genggaman
tanganmu, sementara sampai pecah dan parau aku terus memanggilmu, sedikit pun
tak ada kata yang keluar dari bibirmu. Kemudian, suara gemerisik kian berbisik
dan lamat-lamat hanya sebuah layar tanpa nomor dan nama yang kupandangi. Kau
raib dan aku termangu dengan pikiran terpusat kepadamu. Entah apa yang terjadi?
Aku gelisah,
dada sesak menyeruak, nanar kesadaranku ketika terus memikirkanmu di sana yang
tak lagi kudengar suaranya. Bahkan saat seperti itu, aku sempat berpikir
menjadi orang aneh yang bersayap dan buru-buru terbang menjemputmu untuk
mengetahui keadaanmu. Namun tiba-tiba, angin telah menerbangkan suaramu
sekalipun terbata dan begitu lemah nadanya. Kau bercerita yang sebenarnya tak
ada apa-apa sebab letih saja lalu kau terlengar dan aku menangis
sejadi-jadinya.
UNTUK NAMAMU
kerapkali
kugetarkan saat malam kelam, pagi yang menggigil, dan panas terik untuk
mengiringi langkah-langkah panjangku. dan pernah suatu waktu dengan
kesadaranku, memikirkan hisabmu, namun tak kutemukan selain itu, sekalipun
kukejar jutaan surga di dada mereka--hawa.
Mungkin
saja, sebelum menempuh perjalanan ini, jiwa kita telah dibekali perasaan yang
sama sebelumnya. Namun, ia tersesat di belantara sepi dan lintang pukang saling
mencari. Kemudian, setelah tertatih dan bersemuka maka dengan doa-doa dan
ketulusan kita mengekalkannya sampai jejak-jejaknya tak akan pernah mati
meskipun dunia telah berganti.
Jiwa kita
memang tak penah memilih, tetapi terpilih untuk saling melimpahkan kasih.
Dengan tangan tak menadah, tapi terus membagi sebab kita percaya bahwa jiwa
yang mencintai adalah ingin selalu memberi tanpa mengharapkan apa-apa lagi.
PESAN CINTAMU
Aku mengigau
di lorong-lorong kota, menjeritkan tentang apa yang tak kupahami. Semakin
kutelusuri semakin tak mengerti, bahkan ketika aku mencoba menjauh ia kian
mendekat, aku mencoba lupa ia makin teringat.
Sebagaimana
layang-layang mengitari mega-mega aku mengangkasa kau bawa, kemudian menukik
menuju hamparan ladang kasihmu yang luas. Cintamu seperti anggur, tak pernah
melepaskan dahagaku, namun tak membuatku mabuk sebab kau memapahku agar tidak
menangisi yang fana.
KARENA CINTA TAK PERNAH MAIN-MAIN
Saat itu,
kau pernah mempertanyakan cinta, "apakah semu?" Saat itu pula rasanya
ingin kucium keningmu lalu membisikkan kalimat-kalimat yang dapat
mengukuhkanmu. Aku hanya ingin hatimu yang merasakannya sebab kau telah tahu,
bagiku yang semu hanyalah dunia serta raga yang fana. Sementara yang kita
kasihi adalah jiwa, yang kita cintai adalah hati untuk saling mengerti,
mengisi, memberi dan berbagi karenanya kita pun terus mengembara menelusuri
tebing-tebingnya untuk menemukan jiwa yang terus merindu.
KESAN ABADI
Akan ada
satu kesan abadi ketika segala peristiwa
terkemas dalam etape memori. kau dan aku pernah sama-sama merentangkan temali yang diikat ujungnya pada masing-masing jemari. Di
sana, kita tak hanya mengungkap rasa melalui kata-kata dan mengisi cerita dengan
canda tawa. Namun, tangan kita saling menanggung untuk mengabukan duka
mengobarkan ciuman saat sepi memagut dada dan pada akhirnya nanti album ini
akan menjadi milik kita yang tersimpan sepanjang nyala sampai saatnya kita
mengatupkan mata untuk kemudian kita
pusakakan kepada mereka agar benar-benar
percaya bahwa kisah ini pernah ada.
Mantapp.. Sehat2 dan Suksess truss abang kuu
ReplyDelete