Kali ini, bukan Sudrun koplak
yang jadi bahan cerita, melainkan Parmi. Ya, Parmi si empunya warteg yang mana
saya dan Sudrun suka kongkow di warungnya sekadar untuk menikmati kopi sembari
kesana kemari bercerita, kadang Parmi juga ikut nimbrung obrolan kami meskipun
cuma ketawa-ketawa saja. Namun, kali ini saya lumayan terkejut karena
seumur-umur selama saya ditetapkan sebagai pelanggan tetap, baru kali ini saya
dengar Parmi berkeluh-kesah.
“Mas, dari dulu kok warung
gini-gini aja, ya? Kontrakan tiap tahun naik, pemasukan segitu aja, yang makan
juga orangnya itu-itu aja sementara kebutuhan makin naik, belum lagi makin
banyak warung-warung, gimana saya bisa kredit 30 becak mas buat nanti usaha di
kampung?” keluh Parmi dengan nada yang cukup menyayat hati. Saya dan Surdun
serius menyimak bersama. Sudrun yang biasanya cekikikan berubah drastis serius.
Tampang mukanya pun tampak peduli padahal utangnya sendiri kadang lupa
dipeduliin.
Keluh kesah Parmi sejenak membuat
saya berpikir keras guna mencari solusi supaya orang yang tepat duduk di muka
saya ini setidaknya menjadi ringan beban pikirannya.
“Aaaah, gini aja Parmi, Gimana
kalau dicoba njenengan ubah imagenya, bisa dari sisi parmi sendiri, menunya,
atau bisa juga di cat lagi itu tembok
warung yang mencolok warnanya, kan otomatis bisa menarik perhatian orang,
bagaimana?” Saya melirik Sudrun dan orang yang dilirik tahu kode lantas
manggut-manggut dan ikut menimpali, “Bener, Mi apa kata mas bro!”
“Mas, image itu apa, sih, mas?
Dari tadi mas ngomong kok ya yang tak inget-inget image, aku ndak ngerti, mas,
…” kata Parmi polos
“Image itu ya penampilan, Mi!
Coba, deh diubah penampilannya, kalau dari penampilan Parmi misalnya coba pake
baju yang bagus, dari sejak dulu makan di sini
saya lihat kok pake daster melulu, nah untuk menu makanan juga gitu, Mi,
gimana?”
“Iya, deh, ntar aku coba , mas
moga-moga makin banyak pelanggan, ya, mas?”
“Amiiiin …” sahut saya dan Sudrun
bersamaan
Keesokan harinya tepat jam makan
siang tiba, perut saya lapar benar. Buru-buru saya nggandeng Sudrun ke warung
Parmi.
“Mi, Parmiiiii … makaaan,” teriak
saya karena saking lapernya dan saya tak mendengar parmi menyahuti dari dalam
“Maaaaaaas, kok teriak-teriak,
siih, lha wong aku di sini, kok!” celetuk Parmi tiba-tiba dari samping saya dan
saya tak menyadari betul kalau parmi ada di situ.
“Hlooo … Miii, kamu mau konser
dangdut di mana?” saya dan sudrun seketika ngakak melihat penampilan Parmi
yang seperti artis Dangdut .
“Katanya disuruh ganti
penampilan, Mas?” kata Parmi cemberut
“Ya, bukan gitu juga, kali, Miii
…” balasku dan saya lihat SUdrun terpingkal-pingkal menahan perutnya.
“Aaaah, udah, Mas mau makan pake
apa nih?”
“Xixixixixi …ya udah seperti
biasa Mi, sayur asem,”
Tak berapa lama sayur asem pun
sudah di depan mata. Namun, baru sedikit mencicipinya, ada sesuatu yang aneh
ditenggorokan saya.
“Mi, ini beneran sayur asem?”
Tanya saya nggak percaya
“Ya, iyalah, mas, mang kenapa?”
“Sayur asem kok dikecapin?”
“Katanya disuruh ganti penampilan
menu juga?”
“Haduuuuuh, …. Parmiiiiiii?”
Sudrun ngakak tak ada
henti-hentinya bahkan sampai terjungkal guling-guling. Haduuuh, rasa lapar saya
siang ini mendadak hilang gara-gara Parmi.
Comments
Post a Comment