Darmanto ingin sekali kalo istrinya itu
menjadi seorang penulis. Maklum, keinginan Darmanto itu dikarenakan
istri kawannya yang seorang penulis telah menelurkan sebuah tulisan
bergenre sastra (baca cerpen) dan mendapatkan honor yang jumlahnya
kira-kira bisa buat beli 10 air galon dan 5 gas elpiji ukuran 3
kilogram. Dan kawannya itu selalu memuji-muji istrinya di depan Darmanto
maka dari itulah Darmanto berasa iri hati.
“Kalau istriku bisa nulis dan dapat honor kan lumayan bisa menambah pendapatan dan mencukupi kebutuhan” Pikir Darmanto.
Kemudian
mulai sejak saat itu Darmanto sering menyelidiki istrinya, dia suka
nulis-nulis apa enggak. Darmanto merasa yakin kalau istrinya itu
sebenarnya bisa menulis cerita-cerita kayak istri kawannya. Walaupun
istri Darmanto cuman lulusan EsEmPe, tetapi bagi Darmanto menulis cerita
itu bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak terkait latar belakang
pendidikannya.
Suatu ketika saat istrinya sedang menyetrika baju, Darmanto mendekatinya.
“Sayaang
.. Boleh aku ngomong sesuatu gak?” Kata Darmanto, intonasi pada kata
sayang terasa garing dan kaku sekali karena tidak biasanya dia manggil
begitu. Sementara istrinya yang dipanggil sayang cuma tersenyum-senyum.
“Tumben amat” pikirnya.
“Binggal ngomong aja kok pake ijin segala” sahut istri darmanto kecut sembari merapikan baju yang menumpuk.
“Beginii
lho yang, .. aku tau kalo kamu itu sebenernya pinter nulis, …buktinya
waktu kita pacaran dulu kamu pinter nulis surat cinta balasanku” kata
darmanto merayu
“Maksudnya apa to kang ..?”
“Kamu tau nggak kalo istrinya si Karman itu dapet duit gara-gara nulis cerita? Lumayan lho yang bisa buat nambal kebutuhan kita”
“Kang
.. kang kamu itu mbok mikir .. liat nih kerjaanku numpuk mana aku punya
waktu buat begituan, sementara istri si karman kan enak punya pembantu
..nggak kayak aku tiap hari kerjaaa melulu”
“Ok deh aku bantuin kerjaan kamu ya ..sini aku yang nyetrika”
“Ndak usah kang, .. sudah sono gangguin orang lagi kerja aja!!!”
Pupus
sudah bujukan Darmanto . kemudian dia mencari akal bagaimana caranya
agar istrinya barang sedikit pun memiliki minat utuk menulis cerita.
Setelah cukup lama bermenung diri yang menghabiskan sebungkus rokok
barulah dia menemukan ide brilian agar istrinya mau menulis.
“Yang .. ada kabar gembira nih” Kata Darmanto suatu ketika
“Kabar apa lagi .. mau nyuruh aku lagi buat nulis ..sorry layau!!” sahut istri darmanto ketus
“Yang
ada lomba nulis cerita hadiahnya 5 milyar lho .. wah itu sih bukan
lumayan lagi, kalo kamu ikutan dan menang kan kita bisa kaya”
“Kang ..kenapa nggak kamu aja sih yang nulis ??”
“Aku ndak bisa bikin cerita .. dan aku yakin kamu itu bisa .. apa salahnya sih kalau dicoba”
“Ya udah kang .. besok aku mau nulis cerita. Besok liat aja ya”
Darmanto
kegirangan. Idenya yang cemerlang ternyata mampu membuat istrinya mau
menulis. Dia sudah membayangkan bercerita kepada Karman kalau istrinya
itu juga tak kalah hebat dengan istri Karman. “ Tunggu besok Man,
istriku juga bisa nulis!!” batin Darmanto.
Keesokan
harinya ketika Darmanto bangun tidur matanya terbelalak melihat secarik
kertas di atas meja. Dia yakin betul kalau itu tulisan istrinya. Lalu
dipungutnya secarik kertas itu dan dibacanya perlahan-lahan. Isi
tulisan tersebut kira-kira begini:
“Kang .. beras
sudah abis, air gallon abis, gas juga. Hari ini aku gak masak karena gak
ada duit. Kalau pengen makan ya cari duit buat belanja. Aku capek kang
.. tiap hari kerjaan rumah numpuk melulu, sepeser pun nggak kamu gaji.
Apa kamu anggap aku ini pembantumu?? Ini ceritaku kang silahkan dikirim
kalau menang lomba dan dapet 5 milyar duitnya buat kamu saja!!!”
Seketika
mata Darmanto berair, tubuhnya mendadak lemas lunglai tak berdaya. Lalu
dia pun ambruk di depan meja dan sekelebat wajah karman melintas sambil
terkekeh-kekeh.
Comments
Post a Comment