Semua
orang pasti tahulah bedanya uang seribuan dan seratus ribuan. Dari segi
nominalnya saja sudah jelas-jelas berbeda banget, begitu juga dari gambarnya.
Adapun persamaannya adalah keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan
dan alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan
seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. Namun, dari
persamaan dan perbedaan tersebut, ternyata keduanya memiliki filosofi yang
belum diketahui oleh khalayak ramai. Okekslah kalau begitu, tak perlu lama
berbelit belit. Mari kita simak kisah Sobirin dan Sukiman tentang filosofi uang
seribuan dan seratus ribuan berikut ini.
Suatu
sore, dengan lagak macam orang kaya, Sobirin tengah leyeh-leyeh di beranda
rumahnya ditemani secangkir kopi dan sepiring ubi rebus. Beberapa saat kemudian
datanglah Sukiman, karibnya sedari kecil yang kehidupan ekonominya selalu minus.
“Rin
kamu tahu nggak makna gambar dari uang seribuan dan seratus ribuan?” Tanya Sukiman
seraya tangannya merembet menuju ke arah
piring berisikan ubi rebus.
“Maknanya
ya agar kita selalu inget sama pahlawan-pahlawan kita Man” Jawab Sobirin penuh
percaya diri
“Bukan
itu Rin” sela Sukiman
“Lantas
apa Man???”
“Ternyata
PERURI pinter juga ya mensinkronkan gambar dengan nilai mata uang”
“Maksudnya???”
“Kalo
uang seribuan kan bergambar Patimura. Ente tahu kan kalau Patimura itu pahlawan
pada masa-masa Inonesia belum meredeka”
“Ya,
..terus”
“Nah,
kalo seratus ribuan kan bergambar pak karno, dan ente tentu tahu dong kalo Pak
Karno kan pahlawan yang memproklamirkan berdirinya bangsa ini”
“Ya
terus ..apa maknanya?? Jangan muter muter dong!!!”
“ Ya
maknanya gini, kalo di dompet kita itu isinya berbaris patimura berarti kita
ini belum merdeka man, dan kalo isinya Sukarno berbaris rapi berarti kita ini
sudah merdeka Man”
“Waduh
… bisa juga ente “ Tukas Sobirin seraya mengecek isi dompetnya, dan di dalamnya
dijumpai sepuluh lembaran patimura bebaris rapi.
Comments
Post a Comment