BALSEM

Sumber gambar: http://banjarmasin.tribunnews.com/foto/bank/images/blsm-1.jpg


Hari ini muka dalimin nampak sumringah. Kalau saya perhatikan sedari tadi dia mesam-mesem melulu. Entahlah apa yang menggelayuti pikirannya sehingga saya jadi penarasan begini. Berangkat dari rasa penasarn itulah, tentu saya sebagai seorang kawan ingin mengetahuinya lebih lanjut dari arti pesam-pesem dan raut mukanya yang nampak sumringah itu.

“hehe ..min .. ada apa nih? Dari tadi saya perhatikan kok nyengir melulu” tanya saya iseng-iseng sembari menyodorkan rokok ke tangannya dan tanpa basa-basi dalimin mencabut rokok lantas menyalakan dan mengisapnya penuh penghayatan.

“Anu rus, apa kamu belum mendengar kabar gembira hari ini?” Jawab dalimin masih dengan raut yang sumringah mengepal ngepulkan rokoknya.

“kabar apa min?” tanya saya makin penasaran

 “begini rus, bbm kan sekarang naik, nah sebagai gantinya pemerintah memberikan balsem buat orang-orang seperti kita, kabarnya sih perbulan 300 ribu, weladalah duit segitu kira-kira sama dengan penghasilanku mbecak dua minggu rus”

“BALSEM ..apa itu min” ujar saya separo teriak

“itu lho, pemerintah bagi-bagi duit dikantor pos” tandasnya polos

“o, iya rus, nanti aku traktir deh makan rujak di warungnya Ngatiyem kalau udah cair” sambungnya bangga

“wah ,.. siip deh”

Beberapa saat kemudian Wirjo datang dengan wajah yang sumringah juga. Wirjo mengabarkan kalau dirinya sudah dapat kartu buat ngambil dana BALSEM. Mendengar kabar itu, Dalimin menggered saya pulang. Saya pun nurut saja seperti kerbau dicucuk hidungnya. Sesampai di pertigaan jalan, kami harus berpisah, karena rumah saya dan Dalimin berlawanan arah. Dalam hati saya bersyukur dan senang karena pemerintah sudah berbaik hati memberikan santunan kepada orang-orang kurang mampu macam dalimin. Saya juga membayangkan ketika besok Dalimin nraktir saya makan rujak di warungnya Yu Ngatiyem. Tentu dalimin akan merasa bangga sekali bisa mentraktir saya mengingat sayalah yang selalu nraktir dalimin. Saya jadi geli dan senyum-senyum sendiri.

Keesokan hari, saya menunggu dalimin di warungnya Yu ngatiyem. Sekira dua jam saya menunggu. Setengah bungkus rokok habis sudah, tapi dalimin belum juga kelihatan batang hidungnya. Pikir saya mungkin  Dalimin sedang ngantri ngambil duit. Baru ketika saya mau menyalakan rokok ke tujuh, dalimin datang dengan muka yang sama sekali tak enak dilihat.

“heh ..min .. sini aku sudah lama menunggu lho” teriak saya

“ada apa min, kok mukamu kusut begitu, gimana nih rujaknya” sambung saya

“anu, rus, .. kamu makan rujak aja sendiri, juga bayar sendiri ya” jawab dalimin dengan nada yang teramat pasrah

“Lho, kenapa min”

“saya nggak jadi dapet balsem rus, nggak kedaftar dan nggak dapet kartu, ini gara-gara saya ngambil kreditan motor 3 hari yang lalu setelah saya mendengar kabar tentang balsem, dan kata petugas kelurahan saya termasuk orang mampu, jadi gak terdaftar rus” tandasnya lemes

“rus bisa tolong saya?” sambungnya penuh harap dan mukanya begitu memelas, tak tega sekali melihatnya.

“Apa min, pasti akan saya bantu”

“Tolong rus kamu balikin motor kreditan saya ke dealer, terus dpnya suruh balikin juga soalnya saya dapat ngutang sama Kang Dusmin, dan nanti kamu bilang sama petugas kelurahan kalau saya sudah nggak punya motor lagi ya rus”

“Waduh ,..min, ya sudah min nanti saya bantu” jawab saya menyemangakannya.

Dan berhubung saya terlanjur mengatakan siap membantu Dalimin, maka keesokan harinya saya melaksanakan apa yang diminta Dalimin. Saya tahu kalau motor kreditan dikembalikan lagi, DPn ya pun akan amblas, maka saya terpaksa menggantinya. Adapun  mengenai balsem, saya mengemis-mengemis sama petugas kelurahan agar Dalimin dimasukkan ke dalam daftar, tetapi rupanya ini memakan proses yang teramat sulit bin rumit dan hasilnya nihil juga. Tetapi untuk menyenangkan hati Dalimin, terpaksa saya menipu, saya bermain mata dengan petugas kelurahan kalau dalimin itu sudah didaftarin tetapi ngambilnya harus dikelurahan. Dan sebenarnya balsem dalimin itu uang saya sendiri. Terpaksa saya menyisihkan gaji saya buat dalimin.

Setelah semua beres, saya langsung menemui Dalimin dan menceritakannya kalau semuanya sudah kelar urusannya. Tentu saja ceritanya saya karang-karang biar dia tidak tahu yang sebenarnya. Dalimin nampak sumringah, saya pun dirangkulnya erat-erat.

“Rus, boleh saya minta tolong lagi?”

“Apa min, saya siap”

“besok anterin saya ya ke dealer motor, saya mau ngambil motor lagi”

“haduh ..??”

……………………………………

Comments