Sekali Kau Balas Senyumku, Dunia Akan Runtuh

Dari tahun ke tahun kampung kian sepi saja, apalagi sehabis lebaran, banyak yang diangkut ke Jakarta, terutama gadis-gadis belasan tahun. Kebanyakan mereka jadi pembantu, entah rumah tangga, warung lesehan, warteg, restoran, warkop, dan sebangsa warung warung lainnya. Pokoknya pembantu ya pembantu, tidak ada embel-embel lainnya entah dia bekerja di mana. Tetapi jangan mengira, predikat boleh sama, yang membedakan adalah casingnya. Biasanya yang bekerja di perumahan, casingnya lebih aduhai daripada di warung, warteg, atau sebangsa warungnya lainnya, sedangkan yang di warung, kebanyakan casingnya pada melar, mungkin karena banyak makan. Harap dimaklumi, biasa makan pakai kangkung, sekarang pakai ikan. Melarlah badannya.
Adalah Daronah, gadis 17 tahun, yang dari sononya memang udah cakep, setelah jadi pembantu perumahan cakepnya bertambah naudzubilah. Dalimin pun kesengsem berat.
“man, bukan main cakepnya daronah ya” kata dalimin pada suatu ketika
“jangan jangan kau naksir min” tanya dirman iseng-iseng
“ya, begitulah, man, semenjak daronah pulang dari Jakarta, aku nggak bias tidur, bertambah bahenol dia” tukas dalimin penuh tekanan meyakinkan
Ternyata, bukan hanya dalimin saja yang kepincut sama daronah. Banyak pemuda-pemuda desa dari berbagai macam profesi seperti kuli panggul, tukang becak, kuli bangunan, dan kuli-kuli lainnya yang rupanya tidak bias tidur gara-gara daronah. Tetapi, daronah yang dulu lain dengan yang sekarang. Dulu pakai jilbab, kalem, kalau diledek langsung lari, nggak pakai hape, bajunya kebanyakan komprang, dan satu lagi nggak berani pacaran. Kalau yang sekarang, 180 derajat kebalikannya, Rambut ikalnya dibiarkannya berderai dikasih pula merah-merah dikit, agak genit, baju dan celananya nya ketat macam lepat, kalau berjalan pasti banyak yang memandangnya tak berkedip melihat lenggak lenggok bokongnya yang aduhai semok. Sampai-sampai jakun dalimin naik turun dibuatnya.  Tak lupa, daronah juga selalu nenteng nenteng hape kemana pun ia pergi. Ibarat kata, bolehlah disebut artis kampong dadakan.
“pokoknya daronah itu harus jadi pacarku man” tandas dalimin, sementara dirman cuma mendehem-dehem kecil
“tapi saingan kamu banyak, min” kata dirman
“tidak apa-apa, kamu tahu nggak man, kayaknya daronah juga naksir sama aku, kemarin waktu aku liatin dia di jembatan, dia juga balas ngliatin man”
“masa hanya diliatin aja udah naksir min”
“Tapi perasaanku mengatakan begitu, man” kata dalimin polos
“begini saja min, besok kita tunggu di jembatan, terus kita liatin lagi, kalau dia balas ngliatin kamu dan tersenyum, nah itu tanda-tandanya ada ser-ser sama kamu, min, gimana”
“lantas kalau nggak tersenyum nggak naksir begitu, oke kita taruhan saja ya man, pasti dia akan tersenyum”
“ wah, ide bagus, min, setuju kita taruhan, kalau kamu kalah jangan lupa ya dua bungkus rokok, tapi kalau menang kamu nggak dapat rokok, kan kamu udah dapat daronah, gimana min”
“okelah kalau begitu” tandas dalimin menirukan bait lagu yang dinyanyikan anak anak band asal tegal.
Apa yang dikatakan dirman, ternyata membuat percaya diri dalimin melonjak 100 prosen. Benaknya mengatakan, pasti daronah akan tersenyum. Bagaimana tidak, dirinya kan termasuk pemuda yang cukup ngganteng di kampung, siapa sih yang akan nolak jika dipinang sebagai pacarnya. Bahkan, menolak cewek pun ia pernah. Buktinya, waktu kasminah, cewek yang giginya agak ndongos naksir sama dirinya, ditolaknya mentah-mentah sampai kasminah nangis-nangis.
Sore yang dinanti pun akhirnya tiba. Dalimin dan dirman sudah siaga nongkrong di jembatan. Tak sedikit pemuda-pemuda yang lain juga ikut nongkrong sekadar cuci mata atau berkumpul sama teman-temannya. Jembatan itu memang tempat yang cocok buat cuci mata karena merupakan penghubung antarblok.
Dalimin dan dirman masih nongkrong disitu. Matanya jelalatan kesana kemari mencari sosok yang dinantinya. Sudah enam batang rokok dilahap dalimin, tetapi yang dinanti tak kunjung juga tiba. Dalimin cemas dan gelisah, sementara dirman tenang-tenang saja menikmati rokok gratis. Baru saja rokok ke tujuh akan disulut, nampak dikejauhan seorang gadis memakai kaos kuning ketat, celana ketat pula sambil menenteng-nenteng hape. Jantung dalimin dag dig dug ser, dirman masih tenang. Dalimin menatap daronah tak berkedip, lantas memaksa-maksakan bibirnya tersenyum manis. Jarak 10 meter, macam ikan diliatin kucing, daronah pun berkerenyit  dan mendekat.
“hai mas, kenapa senyum senyum sendiri, kamu sinting ya, edan ya,  gila ya, soak ya, dasar kemplu … sinting kok nongkrong di jalan, sana ke rumah sakit jiwa” teriak daronah galak.
Mendapat serangan dadakan begitu, dalimin gelagapan, lantas melirik dirman, yang dilirik membuang muka, pura-pura melihat sungai di bawah jembatan, nampak mukanya disungai lagi tersenyum. Entah apa terjemahan senyumnya itu, yang jelas pasti panjang terjemahannya.

Comments