Saya ini Sarjana, Lho!!!!

Di kampung saya, memiliki menantu sarjana itu merupakan kebanggaan yang teramat luar biasa. Contohnya, saya sendiri. Belum lulus kuliah saja banyak para orang tua yang dating silih berganti bermaksud menjodohkan anaknya sama saya. Beruntunglah, bapak saya tidak ortodoks, menyerahkan segala sesuatunya kepada saya. Jadi, dengan halus saya menolaknya agar orang-orang tersebut tidak kecewa tentunya.
Muka  tak jadi soal, yang penting title sarjana nemplok dinamanya, maka sudah pasti jadi incaran para orang tua yang memiliki anak gadis. Pernyataan inilah yang ternyata membuat saya kena batunya. Dulmain, teman satu kampus ngotot benar pengen main ke kampung saya. Baginya, Kampung saya itulah harapan satu-satunya dan mungkin terakhirnya buat melepas kejombloannya. boleh dibilang muka dulmain nggak ganteng-ganteng amat sih, bahkan kalo dirating mungkin lebih rendah dari itu, kasarnya jeleklah.  Buktinya, kalau orang agak ganteng dikit nembak lima gadis, pastilah ada yang nyangkut satu, tapi dulmain nembak lima gadis ditolak semua, ada juga yang baru pedekate, langsung nolak mentah-mentah.
Dan ketika dia mendengar cerita saya, walhasil saya pun dipepet terus. Tak jarang rokok selalu disodorkan, juga sesekali nraktir makan bakso yang tentunya dengan maksud tertentu: bisa diajak ke kampung saya. Bahkan, dia juga rela ngongkosin saya jika saatnya nanti saya pulang kampung sama dia.sampai sebegitunya dia sama saya, jelas-jelas saya pun jadi nggak enak sendiri dan berjanji jika nanti pulang, saya akan ajak dia.
Dulmain sepertinya benar-benar nggak sabar. Setiap hari dia main ke kos-kosan dan saya disuruhnya bercerita tentang kampung berikut gadis-gadisnya.
“pokoknya, cantik-cantiklah, dul” tandas saya cepat ketika melihat dulmain mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya.
“bagaimana kalau bulan depan saja kamu pulang, gus?”tanya dulmain menyodorkan sebungkus rokok ke tangan saya.
“waduh, belum bisa dul, saya harus menyelesaikan satu bab skripsi saya” jawab saya dan segera menyambar sebungkus rokok.
“ lama bener ya kalau harus nunggu bulan depan .. masalah skripsi kan bisa ditunda sebentar, gus” tuksa dulmain
“masalahnya bukan itu saja, dul, bapak saya belum kirim, jadi saya nggak ada ong ..”
“ongkos gus, “ cegat dulmain cepat
“kan sudah saya bilang, nanti saya yang ngongkosin bolak balik deh” lanjutnya. Tak enak hati benar deh rasanya mendengar kata-katanya. Dan karena dia terus ngotot akhirnya saya mengalah saja.
“perjalanan ke kampung saya itu jauh lho, dul” tegas saya
“sampai ke mekkah pun saya siap, gus” tandas dulmain
“ya sudah, kalau begitu, bulan depan ya dul”
Hari-hari selanjutnya saya jalani seperti bisaa, Ngobrol sama dulmain soal kampung halaman dan gadis-gadis yang tak ada habis dan bosan-bosannya, rokok yang berpindah tangan dari tangan dulmain ke kantung baju saya, dan juga bakso gratis yang nylonong di tenggokan saya sampai hari yang nanti tiba.
Akhirnya, hari dimana saya harus pulang kampung karena tuntutan dulmain pun tiba. Sore-sore dulmain dating ke kos-kosan. Kaget benar saya, ketika melihat dia bawa koper besar persis tekawe yang mau berangkat ke arab Saudi. Rasanya mau meledak tawa saya, buru-buru saya tahan, nggak enaklah ntar dikira yang bukan-bukan. Lantas saya Cuma cekikikan dalam hati.
“malam mini saya nginep di kosanmu ya gus” kata dulmain spontan
“biar besok kita bisa langsung berangkat dari sini, jadi nggak makan waktu” sambungnya
“iya deh..dul.siip” tandas saya sumringah
Malamnya dulmain nggak bisa tidur. Kampung saya selalu nyelinap dalam setiap pembicaraannya. Saya disuruh bikin list gadis-gadis yang cantik di kampung. Dungunya, saya nurut saja, seperti dihadapan seorang arjuna yang gantengnya tiada tara sedang menyuruh saya memilihkan gadis yang pantas untuknya. Kantuk berat rupanya merayapi mata saya. Ocehan-ocehan dulmain jadi seperti tawon yang mondar mandir: antara jelas dan tidak di kuping saya. Hingga akhirnya saya kalah dan terlelap dengan sendirinya.
Subuh-subuh, saya dicolek-colek orang, rupanya dulmain membangunkan saya.
“lho, kamu sudah bangun dul” tanya saya
“saya nggak tidur gus, saya ngebayangin kampung kamu, gus” ujar dulmain yang kelihatan nggak ngantuk sama sekali padahal semalam tidak tidur dia.
“ya sudah aku mandi dulu ya terus langsung berangkat”
Akhirnya, pagi-pagi kami  jadi berangkat pulang kampung. Saya mengatakan sama dulmain kalau kampung saya itu ditempuh dalam tiga perjalanan. Pertama, naik bus kota sekira 5 jam lamanya, terus naik angkot kurang lebih 30 menit, dan yang terakhir naik becak, 20 menit. Dulmain pun menyanggupinya, baik ongkos maupun dirinya.
Tiga perjalanan rupanya bukan hal yang sulit bagi dulmain karena semalam dia tidak tidur maka di angkutan dia hanya bisa ngorok pulas. Saya sendiri cuma bengong bengong, nggak ada lawan bicara buat nglepas kebosanan saya selama di perjalanan.
7 jam kurang lebih telah tertempuh, kampung tercinta sudah di depan mata. Sesampai di rumah saya dicambut curiga sama bapak, maklum saya nggak ngabarin terlebih dahulu, pastinya bapak bertanya-tanya perihal kepulangan saya, apalagi juga membawa teman.
“gus, kok baru kemarin sudah pulang lagi” tanya bapak heran
“iya, pak, agus kangen sama keluarga, oh iya pak ini teman agus, dulmain namanya” lantas segera saja yang saya sebutkan namanya langsung menyodorkan tangannya.
Perkenalan dulmain sama bapak singkat saja, kemudian kami langsung larut dalam percakapan yang begitu akrab. sesekali bapak bercerita tentang orang yang ingin menjodohkan anak gadisnya dengan saya. Dulmain mendengarkan serius, matanya tak berkedip. Bapak juga senda gurau sama dulmain, kalau pengen dapet cewek modal  sarjana saja pasti dapat yang cakep dikampung ini, kata bapak kepada dulamin. Saya mengamini saja apa kata bapak. Dulmain mungkin air liurnya sudah menetes kalau dirumahnya sendiri.
“Besok  kita main ke rumah, wak karman, dul, anak gadisnya cakep lho, siapa tahu kalau ketemu kamu dan tahu kamu sarjana langsung kawin di tempat ..hehehe” ledek saya, sementara yang diledek cuma meringis, matanya berbinar-binar, senyumnya mengembang lebar.
Pagi-pagi, punggung saya ditepuk-tepuk orang, saya pikir bapak yang membangunkan saya, tahunya dulmain. Katanya dia nggak tidur semalam. Katanya lagi, Pengen buru-buru pagi, biar lekas ke rumah wak karman. Lantas saya segera mandi dan bersiap-siap.
Lama benar dulmain dandan di cermin, mukanya yang pas-pasan itu mencoba mencari mimik yang menurut dia paling ganteng, rambut keritingnya bolak balik disisir kesana kemari mencari model yang cocok dengan muka, sampai saya bosan nungguinnya. Kira-kira 20 menit dia selesai dandan, baru kemudian kami bergegas ke rumah wak karman.
Sesampai di rumah wak karman, saya disambut begitu ramah dan disuguhi jajanan macam-macam. Mata dulmain kesana kemari mencari  anak gadis wak karman yang tak kunjung juga keluar atau ditemuinnya. Melihat gelagat dulmain yang nampaknya resah, saya pun iseng-iseng bertanya
“ijah, dimana wak” tanya saya iseng-iseng seraya melirik dulmain. Dulmain rupanya mengerti terjemahan lirikan saya, makanya dia bias tenang setelah saya melontarkan pertanyaan anak gadis wak karman.
“oh, ada .. hmm, tumben nih nanya ijah, kamu sudah mau ya saya jodohin sama ijah” ujar wak karman
“bukan  itu  wak , maksud saya ..” belum sempat saya melanjutkan kata-kata, wak karman sudah masuk ke dalam memanggil ijah. Dulmain Nampak sedikit cemberut mendengar kata-kata wak karman tadi. Buru-buru saya menjelaskan duduk pekaranya, kalau saya tadi mau ngomong soal dirinya jika dijodohin sama ijah, pasti seneng wak karman, secara, dulmain kan sarjana. Baru dulamin sumringah mendengar penjelasan saya.
Wak karman datang bersama ijah. Mata saya tak berkedip melihat ijah yang bertambah manis saja, sampai-sampai ijah terispu-sipu saya lihat begitu. Nampaknya dulmain juga ikut tak berkedip memandangi ijah dari ujung kai sampai ujung rambut.
“begini, wak, saya kesini mau ngenalin temen saya sama wak karman dan juga ijah. Dia juga sarjana lho wak seperti saya, soalnya saya nggak pengen buru-buru nikah, wak” tandas saya lebar-lebar. Ijah Nampak cemberut, sementara dulmain gelagapan.
“APAAAAAAA………..!!!! dengan muka curut ini, saya nggak yakin dia sarjana, nggak ada tampangnya sedikit pun” bentak wak karman sadis. Hamper dulmain mencolot mendengarnya. Untungnya saya pegangi tangannya, dan mengedip-ngedipkan mata supaya dulmain segera menerejemahkannya. Dia pun akhirnya mengerti, dan tertunduk lesu.
“wak .. saya pamit dulu wak masih banyak keperluan”
“ya sudah, tapi saya nggak mau ijah kawin sama muka curut kayak gitu, nggak ada tampang sarjana sedikit pun, lebih mirip tukang becak” kata wak karman masih dengan nada yang geram.
Di tengah perjalanan pulang ke rumah saya, dulmain hanya diam saja, mukanya suram, Saya nggak berani meliriknya. mungkin dia menyesal ke kampung saya, apalagi sudah mengongkosi saya.
“dul, tenang, masih banyak kok gadis lainnya” tanya saya mencoba mengademkan pikiran dulmain
“sudahlah gus saya pulang sajalah, nggak ada semangat lagi” kata dulmain lemah
Dan memang benar, sorenya kami pulang ke kota dimana kami kuliah. Semenjak saat itu, dulmain kayaknya benci banget jika saya cerita-cerita tentang kampung saya, dan sudah barang pasti, nggak  akan ada lagi sebungkus rokok nylonong ke kantung baju saya, juga pulang kampung gratisss.
KALAU ENTE SARJANA DAN MASIH JOMBLO, BOLEHLAH KE KAMPUNG SAYA.

Comments