Preman Kampung

Semua orang pasti tau siapa badri. Semua orang juga pasti tau kalau dia itu preman, preman kampung tepatnya. Akan tetapi, semua orang nggak ada yang tau dan mau tau kalo sekarang-sekarang ini saya legi berurusan dengan badri. Begini ceriteranya ………
Tampang badri angker betul, pokoknya Jangan macam-macamlah sama dia kalau kepengen selamat. Sesiapa saja yang berpapasan dengannya pasti nggak berani melirik, apalagi menatapnya, bisa-bisa digertak dia. Kemarin saja, parto yang tak sengaja matanya beradu sama badri lantas dibalas dengan mata yang melotot mendelik, parto sampai terkentut-kentut karena saking takutnya, terus lari terbirit-birit, katanya begitu waktu dia cerita sama saya. Andai saja ada orang yang berurusan dengan badri, maka gawatlah hidupnya. Bisa jadi ditelan mentah-mentah sama badri. Seperti sekarang ini, hidup saya sedang gawat, mungkin sebentar lagi super gawat.
Parto bilang, kalau sekarang ini saya lagi jadi dpo –nya badri. Saya paham betul kenapa dia cari saya. Padahal masalahnya sepele. Beberapa hari yang lalu tak sengaja saya nyenggol badri saat naik sepeda. Saya juga nggak tau kalau itu badri. Eh … setelah sepeda saya agak jauhan, terdengar orang ngumpat-ngumpat. Saya menoleh, tau-taunya badri. Tak ayal lagi sepeda pun saya genjot kuat-kuat sampai ngos-ngosan. Dan nyata hari ini, akibat peristiwa itu, hidup saya jadi terancam. Rupanya badri menganggap ini benar-benar bukan hal yang sepele. Pikiran sayapun jadi melayang kemana-mana. Semisal ketemu badri, mungkin saya bisa digebukin, ditampar, jitak, atau juga dipermalukan di depan umum, diplorotin celananya, terus sambil meringis saya ampun-ampunan sama Badri. Ah ….. malu benar saya membayangkannya.
“ to, saya bisa minta tolong sama kamu ndak” kata saya dengan raut muka yang amat menyedihkan dan ketakutan.
“Tolong apa, gus?” tanya parto cepat
“tolong sampaikan permintaan maaf saya sama badri, kemarin saya nggak sengaja menyenggolnya, nanti saya beri kamu rokok sebungkus deh” kata saya menyeringai berharap –harap cemas.
“ waduh, nggak berani saya gus, biar rokok sebungkus, dua bungkus, saya tetep gak berani, liat mukanya aja yang seram saya takut benar” kata parto dengan ekspresi macam ketemu badri betulan. Sementara saya Cuman garuk garuk kepala, bingung nyari jalan keluarnya.
“kenapa nggak minta tolong sama pak lurah saja?” teriak parto yang membuat saya kaget setengah mati.
“ah, betul …kenapa nggak ngomong dari tadi, to”kata saya yang lebih dekat dengan membentak
“lah, ini juga baru ketemu ide” balas parto sembari cekakak cekikik mungkin dikira idenya itu hebat.
Seketika itu juga, saya dan parto menemui pak lurah dengan maksud seperti yang sudah diterangkan di atas.
“Pak, saya minta tolong saya lagi jadi buronan badri, kemarin saya ngenggol dia nggak sengaja pak, tolonglah saya pak” kata saya berharap-harap. Sementara parto mesam-mesem saja melihat saya ketakutan begini. Kurang ajar betul dia, “sompret ntar saya jitak dia pulangnya” batin saya
“begini dik agus, sungguh betul saya ndak bisa menolong dik agus, dia juga berani menggertak saya dik, walaupun saya ini lurah. Saya ndak bisa apa-apa, mau lapor polisi malah saya diancem,..lah takut saya, apa situ mau diancem hah” tukas pak lurah, telunjuknya menuding-nuding saya, dia lupa kalau sekarang ini saya juga sedang terancam. Ah sompret juga nih lurah, pikir saya. Buru-buru saya pamit. Di tengah jalan saya muter otak sampai-sampai pening kepala saya, parto sial-siul saja, matanya jelalatan ngliatin cewek. Hadeuh makin pening saja kepala saya ini.
Tiba-tiba, saya nemu ide, entah dari mana datangnya yang jelas ketika parto sedang lirak lirik cewek ide itu muncul. Sepertinya saya harus ngumpet dulu alias menghilang dari peredaran teman-teman. Haaaa, ide yang cemerlang. Saya pun segera percepat langkah, supaya lekas-lekas sampai rumah dan melaksanakan ide saya itu: sembunyi dirumah sampai batas waktu yang entah kapan, maksudnya sampai badri benar-benar lupa sama saya.
Mulanya seminggu dua minggu saya bisa bertahan mendekam dirumah. Tapi ketika marni, adik perawan saya, mengolok-ngolok terus, katanya saya ini macam perawan yang dipingit saja, saya bener bener blingsatan. Malu betul muka saya ini. Laki-laki kok takut. Tapi, kalo inget badri, ya takutlah. Akhirnya saya ndekem lagi sampai batas waktu kalau badri itu benar-benar lupa sama saya , tanpa menghiraukan olok-olok marni.
Sebulan lamanya saya mendekam dirumah persis perawan yang mau dikawin, nggak boleh kemana-mana. Sesekali parto menjenguk dan pastinya saya selalu menanyakan mengenai badri sudah lupa sama saya apa belum.
Nah, baru sebulan setengah akhirnya napas saya baru lega, parto mengabarkan kalau diluar sana tidak ada desas-desus lagi kalau badri mencari-cari saya. Dan kabarnya lagi badri sedang ada masalah baru, dia sedang maen cinta-cintaan sama cewek. huahaha, sekarang saya bebas, sudah pasti dan benar benar pasti badri nglupain saya, dia kan lagi gila sama ceweknya, pasti yang diinget terus ceweknya lah. Betapa senang sekali saya, sepertinya tidak ada yang menyamai kesenangan saya ini.
“ tapi ngomong-ngomong, gadis goblok siapa yang mau sama badri, ya?”
“kabarnya sih gadis itu namanya marni, adik kamu, gus”

Comments