Perempuanku

Pada kata yang tak sempat terucap. Pada rasa yang teramat gelisah. Pada malam-malam yang tak kuasa terlelap. Aku memikirkan sesuatu yang begitu rumit. Adalah ketika aku jatuh untuk yang kedua kali pada hati seorang perempuan. Perempuan pertama sudah pasti tak rela jika aku memiliki dua perempuan, juga tak ingin aku tinggalkan semerta-merta, sementara perempuan kedua begitu sangat menginginkan aku dengan kerelaannya yang begitu tulus untuk menjadi yang kedua. Maka pada posisi ini dilemalah yang merasuk menusuk pikiranku.

“ Mas akhir-akhir ini kamu kok sering melamun, apa yang kamu sembunyikan mas? Kata istriku menyelidik

“enggak kok, aku nggak menyembuyikan apa-apa, buang jauh-jauh kecurigaanmu terhadapku” tegasku Seraya menghengkangkan lamunanku terhadap perempuan keduaku.

“jujur mas, .. apa kamu jatuh cinta lagi??? Tanyanya masih penuh selidik

“sudah-sudah, kamu selalu mencurigai aku dengan alasan yang tak jelas”

Dia terdiam dan aku pergi. Ini untuk yang kesekian kalinya kami berselisih karena kecurigaannya yang terlalu besar tapi memang benar adanya. Aku tak habis pikir, kenapa naluri seorang perempuan begitu kuat sampai-sampai aku dibuat begitu kikuk. Rasanya Ingin sekali aku mengutarakan tentang perempuan keduaku, tetapi keberanian itu tak pernah kunjung datang. Dalam bayanganku, dia mungkin akan membabi buta karena kemarahannya yang luar biasa, atau mungkin aku akan dibunuhnya. Dan lagi-lagi aku selalu menepis dan membohongi diri jika keinginan ini begitu kuat. Aku tak sanggup dan tak akan pernah membongkar rahasia hatiku sekalipun dia terus mencurigai aku hingga pada suatu ketika keinginan itu meletup-letup dan tembok pertahanan pun jebol pada akhirnya. Entah apapun nantinya aku harus mengatakannya karena aku seorang laki-laki. Dan aku siap menanggung segala resikonya karena aku tahu serapat apapun pintu hatiku, toh ada celahnya yang kapan-kapan bisa dia ketahui.

“dik aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi sebelumnya aku meminta maaf kepadamu ..apapun yang nanti aku katakan aku harap kmu siap menerimanya dan siap dengan segala resikonya”

“katakan saja mas, justru aku ingin keterbukaan dan kejujuranmu, aku siap menerimanya sekalipun itu menyakitkan buatku”

“aku akan menikah lagi” kataku tegas. Istriku membelalakan matanya, tak percaya dengan apa yg barusan aku nyatakan. Sorot matanya begitu tajam penuh amarah, tetapi lama kelamaan mulai merdup dan sayu hingga sembab dan bulir-bulir air matanya mulai berjatuhan membasahi pipinya yang merona.

“Mas, .. kenapa? Apa aku tak lagi pantas menjadi istrimu? Apa aku tidak membahagiakanmu? Atau kamu kurang puas sama aku?” tanyanya memeberondongku

“bukan, ..bukan itu ..”

“lantas kenapa?!!”

“karena aku jatuh cinta lagi”

“aku sudah menduga, silahkan saja mas jika mau kamu begitu tapi ada satu syarat”

“apa???”

“ceraikan aku dulu”

Kata-kata istriku membuat aku terbungkam. Aku tertunduk lesu. Tak ingin aku menceraikannya karena dia cinta pertamaku dan rasa cinta ini masih begitu besar kepadanya. Bayanganku akan kemarahannya kini membuyar. Dia telah berubah, pola pikirnya sedikit menjadi dewasa. Segera kurangkul dia begitu erat.
“maafkan aku sayang, aku sedang menguji tingkat emosimu, aku tak akan pernah berpaling hati karena hati ini sudah benar-benar milikmu ” Tegasku lirih sembari mengecup telinganya . Dan inilah yang benar-benar ampuh untuk menenangkan hatinya, tetapi bukan hatiku karena perempuan keduaku disana sedang dan masih menunggu jawabanku. 

Comments