MALANGNYA NASIB CINTA KAWAN SAYA


Darsono, kawan saya lagi tergila-gila sama perempuan, Maryatun namanya. Setiap kali kami berkumpul, selalu saja Maryatun yang jadi bahan obrolannya. Sebagai seorang kawan, tentu saya rela menyodorkan kuping saya saat Darsono memuji-muji Maryatun. Sungguh saya rela dan tentunya lama-lama saya juga bosandengan sendirinya, lagi-lagi Maryatun. Seringkali saya coba memindahkan tema pembicaraan, tapi ujung-ujungnya Maryatun lagi. sebenarnya eneg benar kuping saya, tapi mau bagaimana lagi, Darsono itu teman saya, masa saya tega mengacuhkan orang yang lagi jatuh cinta, nanti dikira menzholimi kawan sendiri.
Berani sumpah, saya sekali pun belum pernah melihat Maryatun. Dari deskripsi yang dilontarkan Darsono, dapat saya simpulkan kalau Maryatun itu cantik benar, tapi entah faktanya. Mengenai Maryatun, dapat diceritakan kalau dia itu berasal dari desa sebelah. Ciri-cirinya, rambutnya lurus terjuntai sampai bahu, matanya belo, hidungnya mancung, item manis, ada tahi lalat kecil di pelipisnya, dan pastinya bodi aduhai semok. Begitulah pendeskripsian Darsono mengenai anatomi maryatun, pokoknya Maryatun itu mirip bintang pilem india kesukaannya. Saya hanya bisa memaklumi saja, karena memang Darsono itu penggemar berat film india, pastinya dia juga nyari pasangan hidupnya yang mirip-mirip dikitlah.
“kamu ketemu Maryatun dimana, Dar?”tanya saya iseng-iseng
“saya ketemu di pasar, waktu saya disuruh emak beli kembang” jawab Darsono serius
“saya bener-bener jatuh cinta waktu pertama kali melihat dia, gus” tegas Darsono spontanitas.
“jatuh cinta gimana, kan kamu baru pertama kali ketemu dia” cegat saya penasaran
“nah, itu, dia .. saya nyempetin kenalan sama dia, saya nanya-nanya tentang dia, dan waktu dia tersenyum saya langsung jatuh cinta gus” tandas Darsono polos
“eh, gus .. saya ada rencana mau nyari dia di desanya, gus, pokoknya kamu harus ikut ya, nanti aku kenalin sama kamu” sambungnya penuh semangat seratus prosen dan saya pun hanya manggut-manggut kecil saja. Penasaran juga saya, secantik apa sih Maryatun itu sampai-sampai Darsono lupa kalau saya sudah ngantuk betul tapi terus diajaknya ngobrol soal Maryatun.
Berhubung hari sudah jadi sangat malam, kami pun tak dapat melanjutkan obrolan soal Maryatun. Saya harus ke sawah besok, bapak sudah bolak-balik manggil agar saya disuruh lekas tidur takut kesiangan. Sementara Darsono, saya yakin nggak bakalan bisa tidur mikirin Maryatun. Persetan ah, itu kan urusan dia, pikirku. Darsono pulang dan aku pun langsung tidur.
*******
Masih sore, Darsono sudah nongol di rumah saya. Ah, paling mau curhat Maryatun lagi, pikirku. Tak apalah, sungguh saya ini kawan yang baik buat Darsono. Kepada siapa lagi sih Darsono akan mengutarakan isi hatinya kalau bukan sama saya dan karena kemarin saya sudah ngumbar janji sama Darsono untuk merelakan kuping saya ini buat ndengerin curhatannya kapanpun dia mau maka hari ini dia datang begitu cepat.
“gus, kamu kenal kang rusdi” tanya Darsono
“kang rusdi yang rumahnya deket simbahku Dar, memang kenapa?”tanya balik saya
“iya, gus, tadi aku ketemu kang rusdi dijalan sama istrinya, katanya dia mau ke rumah mertuanya, katanya sih istrinya satu desa sama Maryatun. Terus saya nanya soal Maryatun .. kata istri kang rusdi , Maryatun itu orang baru di desanya. Wah kesempatan nih, jadi belum banyak saingan ya gus”tandas Darsono lebar-lebar
“wah, ..bereslah kalau begitu, kamu harus gerak cepat Dar” kata saya menyemangati, dan yang disemangati pun nampak mesam-mesem saja.
“besok kita ke sana ya, gus, mau kan kamu nemenin saya, katanya kamu penasaran sama Maryatun .. pokoknya cakep deh mirip rani mukherje, tapi kamu jangan naksir ya, gus, kan Maryatun itu cinta saya ..hehehe ” tukas Darsono genit serupa pemuda lagi menggoda kekasihnya.
Keesokan harinya, sesuai kesepakatan yang sudah matang direncanakan semalam, maka pagi-pagi benar Darsono menghampiri saya. Kami ngobrol-ngobrol sebentar yang bahannya masih saja monoton, baru kemudian kami berangkat. Karena desa Maryatun agak jauh Dari desa kami, maka dengan terpaksa kami naik angkot. Padahal rencana semalam mau pakai sepeda onthel saya, tetapi rupanya sepedanya dipakai bapak ke sawah jadi terpaksa ngrogoh koceknya Darsono buat bayar angkot.
Di dalam angkot, Darsono rasanya sungguh tak sabar. Gelagatnya blingsatan macam maling nyolong ayam terus ketahuan sama pemiliknya. Jika angkot berhenti sebentar saja untuk menaikkan penumpang, Darsono menggerutu kecil. Entah tak jelas perihal gerutuannya itu. Kira-kira 20 menit kami baru sampai di desa dimana Maryatun tinggal. 20 menit saja kata Darsono lamanya minta ampun, supir angkot pun yang dipersoalkan.
“kamu sudah tahu rumah Maryatun, Dar” Tanya saya penuh selidik
“nah, itu ..saya belum tahu, kemarin saya lupa nanyain itu, gus, terus gimana ya enaknya” Tanya balik Darsono seraya garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
“wah, repot nih, Dar .. ya sudah kita Tanya sama orang-orang sini, barangkali mereka tahu” usul saya. Darsono pun nurut saja. Kemudian saya segera melakukan aksi bertanya kesana kemari layaknya wartawan. Sementara Darsono hanya membuntuti saya dan hanya menyambung-nyambung pertanyaan saya.
“Maryatun ..Maryatun ..” teriak Darsono yang rupanya melihat Maryatun di kejauhan. Segera saja dia berlari menghampiri Maryatun dan meninggalkan saya, kawannya sendiri yang sudah capek-capek nanya kesana kemari. Akhirnya, saya segera menyusul Darsono.
“mas Agus … kok ada disini” teriak Maryatun histeris begitu melihat saya. Darsono celingukan heran.
“lah … mbak Maria .. kok di sini, mana mas yanto mbak?” Tanya saya tanpa melihat Darsono sedikit pun.
“Gus, kamu sudah kenal sama Maryatun gus” Tanya Darsono yang lebih sedikit kepada membentak, tetapi rupanya saya tidak menggubris pertanyaan Darsono karena saya lagi asyik bicara sama Maryatun alias Maria.
“budhe saya lagi ada hajat gus jadi saya pulang tapi mas yanto nggak ikut, saya kemarin pulang sendirian lho, habis mas yanto nggak mau ngantar sih, eh ..gus rencananya besok aku mau ke rumah kamu, terus aku langsung mau pulang ke jakarta, eh malah ketemu kamu di sini” kata Maryatun lebar-lebar. Darsono melongo saja.
“ya sudah mbak besok main saja ke rumah, nanti saya tunggu. Kebetulan ibu katanya kangen sama mbak dan mas yanto, maklum lah mbak sudah lama nggak ketemu semenjak mas yanto nikah, terus langsung ke Jakarta”
“iya deh gus, eh ngomong-ngomong kamu ke sini ada apa ya gus” Tanya Maryatun spontan. Pertanyaan inilah yang membuat kepala saya seperti di kemplang orang, terus saya langsung tersadarkan diri. Saya lupa kalau disamping saya ada Darsono yang lagi melongo. Saya melirik Darsono yang mukanya sedari tadi sudah merah padam, sepertinya dia ingin lari saja kalau tidak saya pegangi tangannya.
“eh, anu saya..”
“mau ke temennya mbak” sambar Darsono cepat, tangan saya diremasnya kuat-kuat. Mbak Maria Cuma mengernyitkan dahi, dan memandangi Darsono yang seperti rasa-rasanya dia pernah ketemu. Buru-buru saya mengalihkan perhatiannya.
“iiiya, mbak, mau ke rumah temen saya, ya sudah mbak saya pamit dulu ya”
Dalam perjalanan pulang, saya sepeti dinterogasi seorang intel. Darsono nanya habis-habisan tentang Maryatun. Saya menjelaskan kalau Maryatun itu istrinya mas yanto, sedangkan mas yanto itu anak Dari kakak ibu kandung saya, sebut saja anak pakdhe saya. Setelah menikah, Maryatun dan mas yanto hijrah di Jakarta. Nah, kebetulan saya ketemu Maryatun itu di Jakarta waktu saya diajak bapak ke sana. Saya memanggilnya mbak Maria, karena mas yanto juga memanggilnya Maria. Saya tidak tahu kalau nama panjangnya itu Maryatun. Darsono hanya melongo saja, entah pandangannya kemana. Rupanya ketemu sama mbak Maria saya jadi lupa kalau kawan yang sedang duduk di samping saya ini sekarang lagi kecewa berat dan mungkin hatinya terpecah belah.
Baru sampai di rumah saya sadar rencana semalam: Rencana ketemu sama pujaannya Darsono yang ternyata istrinya mas yanto. Saya jadi serba salah sendiri dan rada-rada nggak enak sama Darsono. Kemudian semenjak saat itu, tidak ada cerita lagi tentang Maryatun dari mulut Darsono. Dia mulai jauh dari saya, juga nggak pernah lagi main ke rumah.

Comments