Seperti
biasa, sehabis magrib para tukang becak berkumpul di pangkalan yaitu di sebuah
pertigaan yang menghubungkan jalan besar menuju ke desa. Tak luput pula si
Rusdi. Dia selalu aktif menjalankan rutinitasnya sebagai tukang becak. Menurut
Rusdi, orang boleh memandang rendah profesinya. Tetapi jangan salah, tukang
becak itu lebih mulia daripada koruptor, bahkan lebih nyantai daripada
orang-orang yang kerja di kantor, yang penting jatah anak istri tercukupi.
“Rus,
kamu liat Dalimin gak?, kok dia belum keliatan congornya” Tanya Dirman yang
baru saja datang sembari memarkirkan becaknya
“Iya
nih, si dalimin nggak keliatan, kemana ya dia?” Jawab Rusdi spontanitas
Mereka
pun saling berpandangan, melihat-lihat kejauhan, barangkali saja ada si
Dalimin. Tetapi rupanya makhluk yang dibicarakan belum juga kelihatan batang
hidungnya. Menurut rusdi, nggak ada dalimin nggak rame, katanya persis
menirukan adegan iklan di sebuah televisi. Beberapa yang lain juga nampaknya
sependapat dengan Rusdi, tanpa si dalimin pangkalan jadi sepi, apalagi jika
musim sepi penumpang, para tukang becak cepat merasa bosan dengan sendirinya,
lantas beberapa ngloyor pulang. Beberapa lagi paling tidur nangkring dibecaknya
ditemani angin malam yang dinginnya nggak karu-karuan.
Kalau
ada si Dalimin, suasana jadi lain cerita. Yang sepi jadi rame, tak ada
penumpang tak jadi soal. Para tukang becak senang-senang saja nongkrong
dipangkalan ketimbang pulang tanpa hasil. Kata salah satu tukang becak, mending
tertawa-tawa bersama si Dalimin, kan bisa awet muda, daripada pulang disambut
muka masam istri, bisa-bisa tua sebelum waktunya. Begitulah kata tukang becak
yang tidak mau disebutkan namanya.
“Rus,
kamu susul saja si Dalimin, daripada sepi kayak gini” Perintah Dirman kepada
Rusdi
“Iya
Rus, buruan susul si Dalimin” Timpal yang lainnya sementara yang disuruh cuma
bersungut-sungut, lantas segera menghengkangkan becaknya sambil ngedumel lirih.
Di
tengah jalan, rusdi bertemu dalimin.
“Hai,
Min, kemana saja kamu, ditungguin dari tadi kok nggak nongol-nongol” Kata Rusdi
agak sewot
“Saya
dirumah saja, saya punya barang baru Rus” Sahut Dalimin
“Apa
itu”
“Nanti
saja, saya ceritakan di pangkalan, ayo, cepat” Keduanya pun segera mengayuh
becaknya cepat-cepat.
Sesampai
di pangkalan, Dalimin segera merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah handphone
made in China. Yang lain segera mengerubuti Dalimin.
“Apa
itu, Min” Tanya salah salah satu tukang becak yang tidak mau disebutkan namanya
“Ini
handphone” jawab Dalimin
“Wah
hebat kamu min punya hape segala” Sahut Rusdi
“Saya
juga punya Min” Timpal Dirman merogoh sakunya dan mengeluarkan hape jadul
ukuran segede pisang dengan layar mini dan warna monokrom.
“Yang
ini lain Man, ini lengkap ada pesbuknya, kamu ada nggak” Tandas Dalimin dengan
penuh tekanan pada kata pesbuk. Dirman melongo, rasanya asing sekali kata yang
barusan didengarnya. Barang sedikitpun tak pernah mendengarnya. Lantas dirman
segera mencat mencet hapenya yang barangkali menemukan apa yang dimaksud
Dalimin, tetapi tetap nggak ketemu juga. Akhirnya nyerah juga.
“Pesbuk
itu apa min?” Tanya Dirman penasaran, sementara yang ditanya diam sebentar,
mencoba mengingat-ingat pengertian pesbuk yang tadi diajarkan anaknya yang
masih SMP, tetapi rupanya ingatannya tumpul juga.
“Pesbuk
itu …… ah, sudahlah liat saja nih” Dalimin menyodorkan hapenya yang tampilannya
sudah diseting sama anaknya dari rumah jadi tak perlu repot-repot dalimin
membuka pesbuknya. Segera saja para tukang becak yang sudah absen dipangkalan
segera mengerubuti dalimin, persis lalat mengerubuti makanan basi.
“Wah
ada poto kamu min …” sahut Rusdi
“Ada
poto cewek cakepnya juga” timpal yang lain
“Wah
keren ..”
“Hebat
kamu min”
Dan
rupanya hari sudah larut malam, para tukang becak masih asyik mengerubuti
dalimin. Tiba-tiba tidak begitu jauh terdengar suara yang memekakan telinga.
Terjadi tabrakan maut antara sedan dan kijang. Semua tewas seketika. Para
tukang becak segera berhamburan menolong para korban, kecuali dalimin yang
masih asyik pesbukan. Tak berapa lama polisi dan ambulance berdatangan.
beberapa tukang becak ikut mengantarkan korban ke rumah sakit, beberapa lagi
jadi saksi, dan yang lainnya ikut membantu menyingkirkan bangkai mobil.
“
min kenapa kamu nggak bantuin” Teriak rusdi dan Dirman bersamaan
“ini
Rus, saya mau bantuin tapi kata anak saya kalau pesbuknya nggak dipakai lagi
harus di tutup dulu, katanya biar aman, biar nggak dibuka orang lain, saya
bingung nutupnya gimana???
“Lah
………. ????”
Comments
Post a Comment